Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2026

Puasa Tanpa Drama: Mengubah Ramadhan Menjadi Laboratorium Cinta bagi Si Kecil


 

1. Pendahuluan: Mengakhiri "Drama" di Meja Makan

Pukul sepuluh pagi, wajah mungil itu mulai tampak lesu. Tak lama kemudian, rengekan "Bunda, lapar..." atau "Ayah, haus sekali..." mulai terdengar, sering kali diiringi iritabilitas khas sugar-crash yang menguras kesabaran. Bagi banyak orang tua milenial, Ramadhan yang seharusnya syahdu berubah menjadi medan pertempuran instruksi dan kepatuhan paksa. Namun, mari kita tarik napas sejenak. Bagaimana jika kegelisahan si kecil bukan sebuah pembangkangan, melainkan bentuk komunikasi jujur dari fitrahnya yang sedang bertumbuh? Mari kita ubah perspektif: Ramadhan bukan tentang menahan lapar semata, melainkan sebuah "laboratorium cinta"—ruang aman bagi anak untuk menemukan spiritualitasnya dengan riang, tanpa tekanan yang membebani batin.

2. Anak Anda Bukan Kertas Kosong, Melainkan Benih Kebaikan

Dalam mendidik anak beribadah, kita harus beranjak dari teori Tabula Rasa yang menganggap anak lahir sebagai kertas kosong yang harus "ditulisi" oleh ambisi orang tua. Islam menawarkan konsep yang jauh lebih indah: Fitrah. Berdasarkan QS Ar-Rum (30):30, setiap anak lahir dengan "instalasi" kebaikan dasar yang sudah terhubung dengan Sang Pencipta.

Mendidik dalam kerangka Fitrah-Based Education (FBE) bukanlah proses memanipulasi atau menjejali (cramming) hukum agama secara paksa sebelum waktunya. Sebaliknya, tugas kita adalah merawat benih yang sudah ada.

"Mendidik bukan berarti memanipulasi anak dari luar, melainkan proses menemani, merawat, dan membangkitkan benih-benih fitrah tersebut agar berkembang menjadi 'pohon yang baik' (syajarah thayyibah)." — Harry Santosa

Jika kita percaya bahwa anak memiliki instalasi kebaikan, pola asuh kita akan berbasis pada kepercayaan (trust), bukan kecurigaan. Ketaatan akan muncul secara alami sebagai bentuk kerinduan jiwa untuk kembali kepada Tuhannya.

3. Prinsip "Inside-Out": Ketenangan Orang Tua Adalah Energi Anak

Perubahan perilaku anak selalu bermula dari dalam ke luar (inside-out). Dalam konsep Tarbiyah Ruhiyah, stabilitas emosional orang tua adalah kunci. Sering kali, "drama" yang ditunjukkan anak sebenarnya adalah cerminan dari ketegangan, stres, atau kurangnya kegembiraan yang dirasakan orang tuanya saat menjalankan ibadah.

Sebelum menjadi penegak hukum di rumah, orang tua harus menjadi Murabbi (mentor) yang melakukan Tazkiyatunnafsi (penyucian jiwa). Jika Bunda dan Ayah menyambut Ramadhan dengan senyuman dan energi positif (Uswah Hasanah), anak akan menangkap frekuensi kebahagiaan tersebut. Ingatlah, anak adalah peniru ulung; mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

4. Rahasia Biologis: Menjaga Fitrah Jasmani untuk Meminimalkan Drama

Sering kali, drama puasa bersumber dari masalah biologis yang terabaikan. Memahami Fitrah Jasmani berarti memastikan tubuh anak mendapatkan haknya agar emosinya tetap stabil.

  • Menu Sahur yang "Tahan Lama": Hindari hanya memberi nasi dan mi. Pastikan ada karbohidrat kompleks, protein tinggi, dan lemak sehat (seperti susu atau kacang-kacangan) untuk menjaga stabilitas energi sepanjang hari.
  • Manajemen Hidrasi: Pastikan asupan cairan mencukupi antara waktu berbuka hingga sahur guna mencegah dehidrasi yang memicu stres fisik dan mental.
  • Kekuatan Qailulah: Tidur siang singkat sangat disarankan bagi anak yang sedang belajar berpuasa. Ini adalah mekanisme "pertahanan diri" agar mereka tidak terlalu lelah di sore hari saat kadar gula darah menurun.

5. Belajar dari Sahabat Nabi: Strategi Mainan Bulu dan Komunitas

Para sahabat Nabi memiliki cara yang sangat cerdas dan manusiawi dalam melatih anak-anak berpuasa, sebagaimana diriwayatkan oleh Ar-Rubayyi' bint Mu'awwidz. Mereka tidak menghardik anak yang menangis karena lapar, melainkan menggunakan pendekatan kreatif:

  • Distraksi Positif: Mereka membuatkan mainan dari bulu atau kulit (wool) untuk menghibur dan menyibukkan pikiran anak hingga waktu berbuka tiba.
  • Community as Distraction (Fitrah Sosialitas): Mengajak anak ke masjid bukan sekadar ritual, tapi cara menciptakan lingkungan kondusif. Saat anak melihat teman sebaya berjuang bersama, rasa berat itu akan luruh oleh kebersamaan.
  • Kasih Sayang sebagai Metode: Pendidikan ibadah dilakukan dalam kerangka kasih sayang, bukan ancaman api neraka.

6. Tahapan Tadrij: Menanam Puasa Sesuai Usia

Mendidik puasa harus mengikuti prinsip Tadrij (bertahap). Memberikan beban di luar kemampuan fisik anak hanya akan mematikan kecintaan mereka pada ibadah.

  • Usia Pra-Tamyiz (0-7 Tahun): Fokus pada pembangunan identitas dan kecintaan. Biarkan anak ikut sahur dan berpuasa "setengah hari" atau beberapa jam saja. Targetnya adalah mereka merasa bangga menjadi bagian dari umat Islam.
  • Usia Tamyiz (7-10 Tahun): Mulai perkenalkan keteraturan dan target yang sedikit lebih tinggi, namun tetap melalui komunikasi yang demokratis.
  • Usia Menjelang Baligh (10-14 Tahun): Fokus pada penguatan motivasi intrinsik. Persiapkan mereka menuju tanggung jawab hukum (taklif) dengan kesadaran penuh, bukan karena takut diawasi.

7. Menu Aktivitas Ramadhan: Menghidupkan Dimensi Fitrah

Jadikan Ramadhan sebagai petualangan belajar yang seru dengan mengaktifkan dimensi fitrah anak melalui narasi dan praktik nyata:

  • Pagi Estetika: Libatkan anak menghias sudut rumah dengan tema Ramadhan atau mendengarkan lantunan doa sahur yang menenangkan untuk stimulasi indera mereka.
  • Siang Eksperimen (Fitrah Belajar): Ajak anak melakukan eksperimen sederhana tentang bagaimana tubuh mengolah energi atau bercerita tentang hikmah puasa lewat buku bergambar.
  • Sore Sosialitas: Melibatkan anak dalam menyiapkan dan membagikan takjil kepada tetangga agar mereka merasakan kebahagiaan memberi.

8. Berhenti Memberi "Sogokan", Bangun Motivasi Intrinsik

Memberi hadiah uang atau barang untuk setiap hari puasa berisiko mengubah ibadah menjadi "transaksi dagang". Dampak jangka panjangnya adalah risiko kemunafikan—anak hanya berpuasa saat ada imbalan atau di depan orang tua saja.

Jenis Motivasi

Karakteristik

Dampak Jangka Panjang

Ketakutan (Fear)

Puasa karena takut dihukum.

Muncul "drama" dan potensi berbohong saat tidak diawasi.

Hadiah (Ekstrinsik)

Puasa demi barang/uang.

Ibadah dianggap transaksi; semangat hilang jika hadiah tiada.

Intrinsik (Ikhlas)

Puasa karena ingin dicintai Allah.

Membentuk ketangguhan (resilience) dan kemandirian ibadah.

Geserlah fokus mereka untuk mengejar cinta Allah. Katakan, "Allah pasti bangga sekali melihat kakak belajar sabar hari ini."

9. Validasi Emosi dengan Imaji Positif

"Drama" adalah pesan. Saat anak mengeluh, mereka tidak butuh ceramah, mereka butuh dipahami. Gunakan komunikasi empatik dan berikan imaji positif tentang apa yang terjadi pada tubuh mereka.

  • Jangan Katakan: "Jangan cengeng, baru jam sepuluh masa sudah menyerah!"
  • Sebaiknya Katakan: "Bunda tahu perutmu lapar dan tenggorokanmu haus sekali ya? Itu tandanya tubuhmu sedang dibersihkan oleh Allah agar jadi lebih sehat dan kuat. Hebat, kakak sedang menjadi pejuang Allah yang tangguh!"

Validasi ini membuat anak merasa didukung, yang secara otomatis menurunkan tingkat resistensi emosional mereka.

10. Kesimpulan: Ramadhan Sebagai Kurikulum Kehidupan

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan untuk menahan lapar, melainkan kurikulum kehidupan yang dirancang untuk menyempurnakan fitrah manusia. Dengan pendekatan berbasis cinta, keteladanan, dan pemahaman biologis yang tepat, kita sedang membentuk karakter anak yang tangguh secara spiritual dan cerdas secara emosional.

Tugas kita bukanlah menjadi "polisi ibadah" yang menakutkan, melainkan menjadi mentor spiritual yang membersamai setiap langkah kecil mereka menuju kedewasaan iman.

Pertanyaan Reflektif: Sudahkah cara kita berkomunikasi dengan anak di Ramadhan kali ini memberikan imaji tentang Allah yang Maha Pengasih, atau justru membuat anak merasa terbebani oleh instruksi kita?

 

Minggu, 15 Februari 2026

Menjelang Ramadhan: Mengapa "Sampah Digital" Adalah Penghambat Terbesar Kesucian Jiwa Anda?

Detoks Digital Jelang Ramadhan
Detoks Digital Jelang Ramadhan

Manusia modern saat ini hidup dalam sebuah paradoks konektivitas yang ganjil. Kita begitu terhubung secara digital—notifikasi berdering setiap detik, linimasa terus diperbarui—namun di saat yang sama, kita sering merasakan kekeringan spiritual yang akut. Batin kita terasa bising namun hampa, penuh informasi namun miskin makna.

Menjelang kedatangan Ramadhan yang kita muliakan sebagai "Tamu Agung", persiapan jiwa atau tazkiyatun nafs menjadi agenda yang sangat krusial. Namun, bagaimana mungkin kita bisa menyambut tamu semulia itu jika rumah batin kita masih penuh dengan tumpukan polusi informasi? Detoks digital kini bukan sekadar tren kesehatan mental untuk mereduksi stres; ia adalah bentuk nyata dari mujahadah an-nafs—sebuah perjuangan merebut kembali kedaulatan batin dari algoritma demi meraih kesucian jiwa yang paripurna.

Baca Juga: Warna-WarniKeluarga Menyambut Bulan Puasa

Informasi adalah "Sampah" yang Nyata bagi Batin

Dalam diskursus ecosophy yang dikembangkan oleh pemikir seperti Sayyed Hossein Nasr, krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini hanyalah cerminan dari krisis spiritual manusia. Manusia yang kehilangan kearifan dalam mengelola "rumah tangga" dunianya cenderung melakukan perusakan, baik di alam fisik maupun di alam pikiran. Menariknya, gaya hidup minim sampah (zero waste) tidak hanya berlaku untuk benda fisik, tetapi sangat krusial bagi konsumsi informasi kita.

Informasi dapat menjadi "sampah" yang meracuni ekosistem batin. Laksana sebuah pohon, pertumbuhan spiritual kita memerlukan tanah yang bersih dari racun agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang rabbani. Jika tanah batin kita terus-menerus disirami hoaks keagamaan, ghibah digital, dan konten laghwi (sia-sia), maka pertumbuhan iman kita akan kerdil. Islam mengecam keras perilaku berlebih-lebihan ini, termasuk dalam mengonsumsi informasi yang tidak memberikan manfaat ukhrawi.

"Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra: 27)

Gawai sebagai "Berhala Baru" dalam Kurikulum Mandiri

Tujuan utama dari pembinaan karakter atau tarbiyah adalah menjaga agar fitrah manusia tetap suci. Namun, di era siber, gawai yang seharusnya menjadi wasilah (sarana) dakwah sering kali bergeser fungsinya menjadi distraksi yang melalaikan. Jika tidak dikendalikan, gawai bisa bertransformasi menjadi "berhala baru" yang menyedot perhatian kita lebih besar daripada dzikrullah.

Oleh karena itu, kecakapan literasi digital harus diintegrasikan ke dalam kurikulum pembinaan diri mandiri (tarbiyah dzatiyah). Mengambil kendali penuh atas gawai adalah langkah pertama untuk memulihkan "kekeringan spiritual" yang kita rasakan. Kita harus memastikan bahwa batin hanya menerima asupan informasi yang thayyib (baik) agar ia memiliki energi yang cukup untuk menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk.

Baca Juga: I’tikafPertama Adik

Bahaya Laten "Ghibah Digital" dan Kesia-siaan

Ada perbedaan tajam antara al-laghw dan ghibah digital, namun keduanya memiliki daya rusak yang sama terhadap keberkahan. Al-laghw adalah kesia-siaan, seperti aktivitas scrolling tanpa henti yang menumpulkan sensitivitas hati terhadap ayat-ayat Allah. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan bahwa menjauhi kesia-siaan adalah syarat mutlak bagi seorang mukmin untuk mencapai keberuntungan (falah).

Sementara itu, ghibah digital jauh lebih beracun daripada ghibah konvensional. Ia memiliki daya sebar masif dan jejak permanen di ruang digital. Satu komentar buruk atau satu sebaran fitnah dapat menjadi "tumpukan dosa" yang terus mengalir karena jejak digitalnya yang sulit dihapus. Tanpa detoks digital, jari-jari kita mungkin masih membawa kotoran ghibah saat kita mencoba bersimpuh di malam-malam Lailatul Qadar.

Empat Pilar Teologis Detoks Digital

Berdasarkan prinsip-prinsip Qur’ani dalam Tafsir Al-Munir, terdapat empat pilar yang harus menjadi landasan dalam melakukan reset digital:

  • Tawazun (Moderasi): Menjaga harmoni antara kebutuhan duniawi dan spiritual. Penggunaan gawai secara berlebihan adalah bentuk nyata dari israf (ekstravagansi/berlebih-lebihan) yang dilarang karena merusak keseimbangan jiwa.
  • Mujahadah an-Nafs (Pengendalian Diri): Upaya sadar untuk melawan dorongan impulsif saat melihat notifikasi. Ini adalah latihan regulasi diri untuk memastikan kita yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
  • Ijtinab al-Laghw (Menjauhi Kesia-siaan): Secara aktif membatasi jam penggunaan gawai dan memfilter konten yang tidak memberikan nilai tambah bagi akhirat.
  • Muraqabah (Kesadaran Diawasi Allah): Menumbuhkan perasaan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap ketikan, komentar, dan konten yang kita konsumsi di ruang privat digital.

Strategi Praktis "Reset Total" Menuju Ramadhan

Perubahan membutuhkan langkah nyata dan terukur. Berikut adalah strategi manajemen ibadah digital yang dapat Anda terapkan segera:

1.    Audit Digital (Muhasabah): Gunakan fitur screen time untuk mengevaluasi aplikasi mana yang paling banyak menyita waktu Anda. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah penggunaan aplikasi ini mendekatkan saya pada Allah atau justru menjauhkan?"

2.    Pembersihan Konten (Decluttering): Unfollow akun-akun yang memicu penyakit hati seperti hasad (iri) atau kesombongan. Beranikan diri untuk keluar atau membisukan (mute) grup komunikasi yang lebih banyak berisi ghibah dan debat kusir.

3.    Menetapkan "Zona Merah" Gawai: Untuk menjaga kesucian waktu-waktu utama, hindari menyentuh ponsel pada periode krusial: satu jam sebelum tidur, saat sahur, dan menjelang berbuka puasa (Iftar).

4.    Substitusi Thayyib: Ganti kebiasaan scrolling yang sia-sia dengan konten bermakna, seperti tadabbur Al-Qur'an digital atau mendengarkan kajian tafsir. Manfaatkan gerakan kolektif seperti "Satu Jam Tanpa Gawai" untuk membangun kembali kehangatan dengan keluarga di dunia nyata.

Baca Juga:  Maafkan Kami, RamadhanJika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka

Kesimpulan: Mengistirahatkan Jari, Menyejukkan Hati

Melakukan detoks digital menjelang Ramadhan adalah manifestasi cinta kita kepada sang "Tamu Agung". Penyucian jiwa menuntut keberanian untuk melepaskan ketergantungan pada dunia maya demi meraih kemanisan iman di dunia nyata. Kita tentu tidak ingin menyambut bulan suci dengan hati yang penuh sampah informasi dan jari-jari yang masih kotor oleh dosa digital.

Mulailah dengan langkah kecil hari ini: matikan satu notifikasi yang tidak perlu, hapus satu aplikasi yang melalaikan, dan sediakan waktu hening untuk bercengkerama dengan Sang Pencipta.

Apakah hati kita sudah cukup bersih dari sampah informasi untuk menerima keberkahan Ramadhan tahun ini?

 

Minggu, 16 Maret 2025

Tahan Lidahmu ...!!

 Tahan Lidahmu ...!!

Tahan Lidahmu
Tahan Lidahmu

 

(Hal 86) “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan terdapat malaikat pengawas yang selalu hadir mencatatnya.”  

(QS Qaaf: 18)

 Salah satu yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk dihindari selama puasa adalah mengeluarkan kata-kata buruk selama berpuasa. Menjaga lidah dan disiplin untuk tidak mengatakan kata-kata buruk adalah jaminan diterimanya puasa seseorang. Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan palsu atau kata-kata bohong dan mengamalkannya atau masa bodoh dengannya, (Hal 87) maka tidak ada gunanya dia berpuasa meninggalkan makan dan minumnya.”

(HR Bukhari)

Sabtu, 15 Maret 2025

Nikmatnya Berdoa

 Nikmatnya Berdoa

Nikmatnya Berdoa
Nikmatnya Berdoa 

 

(Hal 81) “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku. Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka berima kepada-Ku, agar selalu berada dalam kebenaran.”  

(QS Al Baqarah: 186)

 Tahukah anda? Ayat tersebut letaknya dimana? Ayat ini terletak antara ayat-ayat puasa dalam bulan Ramadhan, antara surat Al Baqarah ayat 185 tentang Ramadhan dan Surat Al Baqarah ayat 187 tentang halalnya hubungan suami istri di malam-malam bulan Ramadhan. 

Jumat, 14 Maret 2025

Jadilah Orang yang Paling Dermawan

 Jadilah Orang yang Paling Dermawan

Jadilah Orang yang Paling Dermawan
Jadilah Orang yang Paling Dermawan 

 

(Hal 76) “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissalam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk menyimak bacaan al Qur’annya. Sungguh, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”  

(HR. Bukhari Muslim)

(Hal 77) Dalam sebuah riwayat... Suatu ketika Rasulullah SAW pedalaman, laki-laki ini ingin meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW, dengan berkata:

“Wahai Muhammad berikan kepadaku apa yang telah diberikan Allah padamu !! ...

Rasulullah langsung menunjuk sebuah lembah gunung yang banyak digembalakan kambing, berkata kepada Badui tadi.

Kamis, 13 Maret 2025

Dzikir yang Menentramkan Hati

Dzikir yang Menentramkan Hati
 Dzikir yang Menentramkan Hati

 Dzikir yang Menentramkan Hati

 

(Hal 12) “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”  

(QS Ar Ra’du : 28)

Salah satu ibadah yang harus digalakkan di bulan Ramadhan adalah banyak berdzikir kepada Allah, baik dalam bentuk mengingat kekuasaan-Nya maupun dalam bentuk menyebut nama-Nya dan berdoa pada-Nya, berdzikir kepada Allah adalah karakter seorang muttaqin, mereka terbiasa mengingat dan menyebut nama Allah dalam semua kondisi, ketenangan jiwanya terletak pada banyaknya ia mengingat Allah SWT.

Minggu, 02 Maret 2025

Ramadhan Bulan Hidayah dan Ibadah

 Ramadhan Bulan Hidayah dan Ibadah

Ramadhan Bulan Hidayah dan Ibadah
Ramadhan Bulan Hidayah dan Ibadah 

 

(Hal 16)Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”

(QS. Al Baqarah: 185).

Lihat ayat di atas, dua kali Allah menyebut hidayah (Al Huda) yang pertama dalam bentuk nakirah (tidak ditentukan jumlahnya) yang kedua dalam bentuk ma’rifah (yang ditentukan jumlahnya). 

Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an yang diturunkan dalam bulan Ramadhan ini banyak mengandung hidayah yang terus – menerus tanpa henti kepada manusia, adapun hidayah yang kedua dalam bentuk ma’rifah maksudnya adalah bahwa (Hal 17) penjelasan Al Qur’an terkait hidayah-hidayah tertentu yang menjadi pembeda antara yang haq dan yang bathil.

Sabtu, 01 Maret 2025

Keberkahan Bernama Ramadhan Itu Telah Tiba

 Keberkahan Bernama Ramadhan Itu Telah Tiba

Keberkahan Bernama Ramadhan Itu Telah Tiba
Keberkahan Bernama Ramadhan Itu Telah Tiba

 

(Hal 11)Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, bulan yang mana Allah mewajibkan kepada kalian puasnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Jahannam ditutup, setan-setan dibelenggu, dan pada bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, naka barangsiapa yang terhalang darinya sungguh ia terhalang dari kebaikan.”

(HR. Ahmad, An-Nasa’i).

(Hal 12) Syekh Mutawalli Sya’rawi berkata:

“Keberkahan adalah bertambahnya nilai dan kualitas serta manfaat dalam kehidupan manusia. Bila keberkahan masuk ke dalam usia, maka ia akan memanjangkannya, bila keberkahan masuk ke dalam harta maka harta menjadi banyak, bila keberkahan masuk ke dalam keluarga, maka keluarga menjadi shaleh dan bertakwa, bila keberkahan masuk ke dalam hati, maka hati akan menjadi bahagia.”

Jumat, 28 Februari 2025

Bahagia Bersama Ramadhan : Bahagia saat menyambut hadirnya bulan Ramadhan

 Bahagia Bersama Ramadhan : Bahagia saat menyambut

hadirnya bulan Ramadhan

Oleh: Abu Ahmad

 

Bahagia Bersama Ramadhan, Bahagia Menyambut Ramadhan
Bahagia Bersama Ramadhan, Bahagia Menyambut Ramadhan 

 Sesuatu yang dinanti-nanti pasti akan memberikan kebahagiaan, sebagaimana sesuatu  yang akan memberikan kebahagiaan pasti senantiasa dinantikan kehadirannya. Seorang suami istri misalnya, yang telah lama menikah dan belum dikaruniai anak, lalu berkeinginan mempunyai anak, pasti selalu menantikan hadirnya sang buah hati. 

Lalu setelah hadir di tengah-tengah mereka pasti keduanya merasa bahagia tiada terkira. Namun jika anak yang akan memberikan kebahagiaan itu belum hadir, maka mereka akan selalu dan terus menantinya, sambil berharap hadirnya si buah hati di tengah mereka.

Begitu pula dengan bulan Ramadhan, bulan yang selalu dinanti-nanti oleh setiap hamba kehadirannya, karena ada kebahagiaan yang terdapat di dalamnya saat hadir di tengah-tengah mereka. Dan karena di dalamnya terdapat nilai yang akan memberikan kebahagiaan dan ketenteraman maka ia akan senantiasa dinanti-nantikan sepanjang tahunnya.

Jumat, 01 November 2024

Warna Warni Keluarga Menyambut Bulan Puasa

 

Warna Warni Keluarga Menyambut Bulan Puasa

Oleh Edi Santoso

Warna Warni Keluarga Menyambut Bulan Puasa
Warna Warni Keluarga Menyambut Bulan Puasa

 

(Hal-50) Ramadhan memang bulan istimewa. Keriuhan menyambutnya tak semata nampak di pesantren atau masjid, tetapi juga di rumah-rumah. Terutama pada pekan terakhir bulan Sya’ban, sebagian warga Muslim mulai berbenah.

Ada yang berbeda di rumah Nila (38). Menjelang Ramadhan ini, rumah di Komplek Timah Depok itu mendadak ramai. Kelap-kelip lampu menghiasi pagar, layaknya menyambut Hari Kemerdekaan. Beraneka kertas hias terpasang di bagian rumahnya, “Marhaban Yaa Ramadhan”.

Sabtu, 05 Oktober 2024

I’tikaf Pertama Adik

 

I’tikaf Pertama Adik

I’tikaf Pertama Adik
I’tikaf Pertama Adik

(Hal-46) waktu itu sepuluh terakhir di bulan Ramadhan. Saya dan teman-teman biasanya janjian untuk beri’tikaf bersama di salah satu masjid terbesar di Jakarta. Tapi, saat hendak berangkat, adik perempuan saya waktu itu baru duduk di bangku SMP minta ikut i’tikaf. Atas izin ibu, akhirnya kami berangkat berdua.

Masjid waktu itu cukup ramai, apalagi ini malam ke 21. Setelah berwudhu, kami naik ke lantai dua, tempat khusus perempuan untuk beri’tikaf. Setelah shalat tarawih berjamaah, kami bergantian tilawah Al Qur’an. 

Sambil mendengarkan kajian, saya menjelaskan sedikit-sedikit tentang makna Ramadhan dan keutamaan I’tikaf. Saya bilang kalau nanti malam, sekitar 2 jam, akan ada shalat Tahajud berjamaah, renungan , dan dilanjutkan dengan sahur.

Selasa, 24 September 2024

I’tikaf Bersama Muallaf

 

I’tikaf Bersama Muallaf

I’tikaf Bersama Muallaf
I’tikaf Bersama Muallaf

(Hal-47) memasuki 10 hari akhir Ramadhan, saya bermaksud untuk I’tikaf setelah beberapa waktu berkutat dalam pekerjaan. Seorang ibu paruh baya berjilbab, berpakaian rapi dan berwajah khas wilayah timur berdiri di samping saya terlihat gelisah. Daripada melamun akhirnya saya putuskan untuk menyapa dan sedikit mengobrol. Ternyata Bu Nur, begitu ia memperkenalkan diri kebetulan juga sedang menuju tempat yang sama.

Pembicaraan terus bergulir. Ia dan suaminya telah I’tikaf sejak hari pertama Ramadhan dan hanya sesekali keluar masjid untuk kepentingan mendesak. “Hebat sekali!” begitu pikir saya. Rasa takjub saya tak terhenti sampai di situ. Setelah kami terdiam beberapa lama, Bu Nur berucap lirih,”Sebenarnya saya muallaf...”

Sabtu, 14 September 2024

Maafkan Kami, Ramadhan Jika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka

 

Maafkan Kami, Ramadhan Jika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka

Oleh Sulthan Hadi

 

Maafkan Kami, Ramadhan Jika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka
Maafkan Kami, Ramadhan Jika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka

(Hal-21) Ramadhan, adalah anugerah Allah kepada kita. Ia teramat istimewa dalam segala hal, dan teramat istimewa apa saja yang ada bersamanya, terlebih ibadah-ibadah yang disyariatkan secara spesial. Karena itu, Ramadhan layak dihormati, diistimewakan, dan dirindu oleh siapa pun.

(Hal-22) Siang harinya adalah saat-saat merengkuh kemuliaan lewat puasa yang ditunaikan secara tulus dan ikhlas. Puasa itu ibadah yang istimewa, karena akan menjadi penebus kesalahan-kesalahan kita yang berserak di hari-hari sebelumnya. Kafarat bagi kekhilafan-kekhilafan kita dalam memperlakukan keluarga, harta, dan tetangga, serta kekhilafan kita yang lain.

Jumat, 13 September 2024

Maafkan Kami, Jika Belum Banyak Berbagi

 

Maafkan Kami, Jika Belum Banyak Berbagi

Oleh Sulthan Hadi

 

Maafkan Kami, Jika Belum Banyak Berbagi
Maafkan Kami, Jika Belum Banyak Berbagi

(Hal-29) Ramadhan tidak hanya kita kenal sebagai bulan ibadah. Ia juga simbol kedermawanan. Allah Swt memperlihatkan kemurahan-Nya di dalam hari-harinya dengan limpahan rahmat-Nya, maghfirah-Nya, dan pembebasan-Nya dari api neraka, dan menjadikan yang terbaik di antara manusia, yang paling pemurah dan paling banyak berbagi. Prestasi itu kemudian disematkan kepada Rasulullah Saw, karena kemurahannya yang berlipat-lipat ketika Ramadhan datang.

(Hal-30) Dalam kalimat yang indah, Ibnu Abbas ra melukiskan pribadi beliau,

“Nabi Saw adalah manusia yang paling pemurah, dan sifat murah hatinya semakin bertambah pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya untuk mengajarkan Al Qur’an kepadanya. Dan biasanya jibril mendatanginya setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengajarinya Al Qur’an. Sungguh, keadaan Rasulullah Saw ditemui Jibril sangat dermawan dalam kebaikan, melebihi angin yang berhembus.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Senin, 02 September 2024

Seperti Apa Kita Ramadhan Ini ?

 

Seperti Apa Kita Ramadhan Ini ?

Oleh M Lili Nur Aulia

 

Seperti Apa Kita Ramadhan Ini ?
Seperti Apa Kita Ramadhan Ini ?

(Hal-15) Ramadhan, tamu mulia itu, akhirnya datang. Sujud syukur ke hadirat Allah Swt yang masih memberi kita umur untuk hidup di antara bulan suci ini. Nikmat yang harus disyukuri, tapi kesyukuran itu seharunya tidak berdiri sendiri, tapi langkah nyata mengisinya dengan memaksimalkan amal-amal shalih.

(Hal-16) Sayangnya, masih banyak kondisi dirinya memprihatinkan di saat Ramadhan datang. Berbagai alasan dikemukakan. Padahal, itu sangat merugikan kita sendiri.

Rabu, 28 Agustus 2024

Maafkan Kami Ramadhan

 

Maafkan Kami Ramadhan

Oleh Ahmad Zairofi AM

“Maafkan kami Ramadhan. Kepala kami tertunduk malu karena engkau menjanjikan kami berlimpah kebaikan, tapi kami tenggelam dalam kehinaan.”

(Syaikh Adil bin Ahmad)

Maafkan Kami Ramadhan
Maafkan Kami Ramadhan
 

(Hal-09) Ramadhan ... seluruh satuan masa di sepenuh bulannya adalah cahaya, bagi kita, bila kita ingin menggapai takwa. Ia tak semata kesempatan. Lebih dari itu, Ramadhan, adalah pusaran kesakralan.

Ramadhan ...

Sejujurnya setiap jiwa kita merindu kesakralan. Tanpa kecuali. Sebab begitulah karakter jiwa kita diciptakan. Kita memang dari tanah. Tapi kita juga dicetak dari tiupan ruh, yang menjadikan tanah yang mati dalam tubuh kita tumbuh dan hidup. Karenanya seharusnya seluruh jiwa raga kita sangat ceria dan bahagia dengan Ramadhan, bahkan saat ia baru nyaris tiba. Tapi godaaan nafsu dan tarikan-tarikan liar dunia memalingkannnya.

Selasa, 20 Agustus 2024

7 Hal yang Perlu Kita Perhatikan Selama Ramadhan

 

7 Hal yang Perlu Kita Perhatikan Selama Ramadhan

7 Hal yang Perlu Kita Perhatikan Selama Ramadhan
7 Hal yang Perlu Kita Perhatikan Selama Ramadhan

 
 

[Hal-26] 1. Membaca Sejarah Bulan Ramadhan

Ramadhan tidak hanya sebatas bulan amal dan ibadah. Tapi juga bulan kemenangan dan pertolongan. Banyak peristiwa besar yang terjadi di bulan ini yang penting menjadi perhatian kita. Diantaranya, perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke-2 hijrah, di mana umat Islam yang hanya berjumlah 313 tentara dengan dukungan 2 ekor unta, berhasil mengalahkan kaum kuffar yang berkekuatan 1.000 prajurit dengan dukungan 700 ekor unta.

Fathu Makkah yang merupakan peristiwa penaklukan kota Makkah dari tangan kaum Musyrikin, juga terjadi di bulan Ramadhan, tahun ke-8 hijrah.