Senin, 16 Februari 2026

Puasa Tanpa Drama: Mengubah Ramadhan Menjadi Laboratorium Cinta bagi Si Kecil


 

1. Pendahuluan: Mengakhiri "Drama" di Meja Makan

Pukul sepuluh pagi, wajah mungil itu mulai tampak lesu. Tak lama kemudian, rengekan "Bunda, lapar..." atau "Ayah, haus sekali..." mulai terdengar, sering kali diiringi iritabilitas khas sugar-crash yang menguras kesabaran. Bagi banyak orang tua milenial, Ramadhan yang seharusnya syahdu berubah menjadi medan pertempuran instruksi dan kepatuhan paksa. Namun, mari kita tarik napas sejenak. Bagaimana jika kegelisahan si kecil bukan sebuah pembangkangan, melainkan bentuk komunikasi jujur dari fitrahnya yang sedang bertumbuh? Mari kita ubah perspektif: Ramadhan bukan tentang menahan lapar semata, melainkan sebuah "laboratorium cinta"—ruang aman bagi anak untuk menemukan spiritualitasnya dengan riang, tanpa tekanan yang membebani batin.

2. Anak Anda Bukan Kertas Kosong, Melainkan Benih Kebaikan

Dalam mendidik anak beribadah, kita harus beranjak dari teori Tabula Rasa yang menganggap anak lahir sebagai kertas kosong yang harus "ditulisi" oleh ambisi orang tua. Islam menawarkan konsep yang jauh lebih indah: Fitrah. Berdasarkan QS Ar-Rum (30):30, setiap anak lahir dengan "instalasi" kebaikan dasar yang sudah terhubung dengan Sang Pencipta.

Mendidik dalam kerangka Fitrah-Based Education (FBE) bukanlah proses memanipulasi atau menjejali (cramming) hukum agama secara paksa sebelum waktunya. Sebaliknya, tugas kita adalah merawat benih yang sudah ada.

"Mendidik bukan berarti memanipulasi anak dari luar, melainkan proses menemani, merawat, dan membangkitkan benih-benih fitrah tersebut agar berkembang menjadi 'pohon yang baik' (syajarah thayyibah)." — Harry Santosa

Jika kita percaya bahwa anak memiliki instalasi kebaikan, pola asuh kita akan berbasis pada kepercayaan (trust), bukan kecurigaan. Ketaatan akan muncul secara alami sebagai bentuk kerinduan jiwa untuk kembali kepada Tuhannya.

3. Prinsip "Inside-Out": Ketenangan Orang Tua Adalah Energi Anak

Perubahan perilaku anak selalu bermula dari dalam ke luar (inside-out). Dalam konsep Tarbiyah Ruhiyah, stabilitas emosional orang tua adalah kunci. Sering kali, "drama" yang ditunjukkan anak sebenarnya adalah cerminan dari ketegangan, stres, atau kurangnya kegembiraan yang dirasakan orang tuanya saat menjalankan ibadah.

Sebelum menjadi penegak hukum di rumah, orang tua harus menjadi Murabbi (mentor) yang melakukan Tazkiyatunnafsi (penyucian jiwa). Jika Bunda dan Ayah menyambut Ramadhan dengan senyuman dan energi positif (Uswah Hasanah), anak akan menangkap frekuensi kebahagiaan tersebut. Ingatlah, anak adalah peniru ulung; mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

4. Rahasia Biologis: Menjaga Fitrah Jasmani untuk Meminimalkan Drama

Sering kali, drama puasa bersumber dari masalah biologis yang terabaikan. Memahami Fitrah Jasmani berarti memastikan tubuh anak mendapatkan haknya agar emosinya tetap stabil.

  • Menu Sahur yang "Tahan Lama": Hindari hanya memberi nasi dan mi. Pastikan ada karbohidrat kompleks, protein tinggi, dan lemak sehat (seperti susu atau kacang-kacangan) untuk menjaga stabilitas energi sepanjang hari.
  • Manajemen Hidrasi: Pastikan asupan cairan mencukupi antara waktu berbuka hingga sahur guna mencegah dehidrasi yang memicu stres fisik dan mental.
  • Kekuatan Qailulah: Tidur siang singkat sangat disarankan bagi anak yang sedang belajar berpuasa. Ini adalah mekanisme "pertahanan diri" agar mereka tidak terlalu lelah di sore hari saat kadar gula darah menurun.

5. Belajar dari Sahabat Nabi: Strategi Mainan Bulu dan Komunitas

Para sahabat Nabi memiliki cara yang sangat cerdas dan manusiawi dalam melatih anak-anak berpuasa, sebagaimana diriwayatkan oleh Ar-Rubayyi' bint Mu'awwidz. Mereka tidak menghardik anak yang menangis karena lapar, melainkan menggunakan pendekatan kreatif:

  • Distraksi Positif: Mereka membuatkan mainan dari bulu atau kulit (wool) untuk menghibur dan menyibukkan pikiran anak hingga waktu berbuka tiba.
  • Community as Distraction (Fitrah Sosialitas): Mengajak anak ke masjid bukan sekadar ritual, tapi cara menciptakan lingkungan kondusif. Saat anak melihat teman sebaya berjuang bersama, rasa berat itu akan luruh oleh kebersamaan.
  • Kasih Sayang sebagai Metode: Pendidikan ibadah dilakukan dalam kerangka kasih sayang, bukan ancaman api neraka.

6. Tahapan Tadrij: Menanam Puasa Sesuai Usia

Mendidik puasa harus mengikuti prinsip Tadrij (bertahap). Memberikan beban di luar kemampuan fisik anak hanya akan mematikan kecintaan mereka pada ibadah.

  • Usia Pra-Tamyiz (0-7 Tahun): Fokus pada pembangunan identitas dan kecintaan. Biarkan anak ikut sahur dan berpuasa "setengah hari" atau beberapa jam saja. Targetnya adalah mereka merasa bangga menjadi bagian dari umat Islam.
  • Usia Tamyiz (7-10 Tahun): Mulai perkenalkan keteraturan dan target yang sedikit lebih tinggi, namun tetap melalui komunikasi yang demokratis.
  • Usia Menjelang Baligh (10-14 Tahun): Fokus pada penguatan motivasi intrinsik. Persiapkan mereka menuju tanggung jawab hukum (taklif) dengan kesadaran penuh, bukan karena takut diawasi.

7. Menu Aktivitas Ramadhan: Menghidupkan Dimensi Fitrah

Jadikan Ramadhan sebagai petualangan belajar yang seru dengan mengaktifkan dimensi fitrah anak melalui narasi dan praktik nyata:

  • Pagi Estetika: Libatkan anak menghias sudut rumah dengan tema Ramadhan atau mendengarkan lantunan doa sahur yang menenangkan untuk stimulasi indera mereka.
  • Siang Eksperimen (Fitrah Belajar): Ajak anak melakukan eksperimen sederhana tentang bagaimana tubuh mengolah energi atau bercerita tentang hikmah puasa lewat buku bergambar.
  • Sore Sosialitas: Melibatkan anak dalam menyiapkan dan membagikan takjil kepada tetangga agar mereka merasakan kebahagiaan memberi.

8. Berhenti Memberi "Sogokan", Bangun Motivasi Intrinsik

Memberi hadiah uang atau barang untuk setiap hari puasa berisiko mengubah ibadah menjadi "transaksi dagang". Dampak jangka panjangnya adalah risiko kemunafikan—anak hanya berpuasa saat ada imbalan atau di depan orang tua saja.

Jenis Motivasi

Karakteristik

Dampak Jangka Panjang

Ketakutan (Fear)

Puasa karena takut dihukum.

Muncul "drama" dan potensi berbohong saat tidak diawasi.

Hadiah (Ekstrinsik)

Puasa demi barang/uang.

Ibadah dianggap transaksi; semangat hilang jika hadiah tiada.

Intrinsik (Ikhlas)

Puasa karena ingin dicintai Allah.

Membentuk ketangguhan (resilience) dan kemandirian ibadah.

Geserlah fokus mereka untuk mengejar cinta Allah. Katakan, "Allah pasti bangga sekali melihat kakak belajar sabar hari ini."

9. Validasi Emosi dengan Imaji Positif

"Drama" adalah pesan. Saat anak mengeluh, mereka tidak butuh ceramah, mereka butuh dipahami. Gunakan komunikasi empatik dan berikan imaji positif tentang apa yang terjadi pada tubuh mereka.

  • Jangan Katakan: "Jangan cengeng, baru jam sepuluh masa sudah menyerah!"
  • Sebaiknya Katakan: "Bunda tahu perutmu lapar dan tenggorokanmu haus sekali ya? Itu tandanya tubuhmu sedang dibersihkan oleh Allah agar jadi lebih sehat dan kuat. Hebat, kakak sedang menjadi pejuang Allah yang tangguh!"

Validasi ini membuat anak merasa didukung, yang secara otomatis menurunkan tingkat resistensi emosional mereka.

10. Kesimpulan: Ramadhan Sebagai Kurikulum Kehidupan

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan untuk menahan lapar, melainkan kurikulum kehidupan yang dirancang untuk menyempurnakan fitrah manusia. Dengan pendekatan berbasis cinta, keteladanan, dan pemahaman biologis yang tepat, kita sedang membentuk karakter anak yang tangguh secara spiritual dan cerdas secara emosional.

Tugas kita bukanlah menjadi "polisi ibadah" yang menakutkan, melainkan menjadi mentor spiritual yang membersamai setiap langkah kecil mereka menuju kedewasaan iman.

Pertanyaan Reflektif: Sudahkah cara kita berkomunikasi dengan anak di Ramadhan kali ini memberikan imaji tentang Allah yang Maha Pengasih, atau justru membuat anak merasa terbebani oleh instruksi kita?

 

Minggu, 15 Februari 2026

Menjelang Ramadhan: Mengapa "Sampah Digital" Adalah Penghambat Terbesar Kesucian Jiwa Anda?

Detoks Digital Jelang Ramadhan
Detoks Digital Jelang Ramadhan

Manusia modern saat ini hidup dalam sebuah paradoks konektivitas yang ganjil. Kita begitu terhubung secara digital—notifikasi berdering setiap detik, linimasa terus diperbarui—namun di saat yang sama, kita sering merasakan kekeringan spiritual yang akut. Batin kita terasa bising namun hampa, penuh informasi namun miskin makna.

Menjelang kedatangan Ramadhan yang kita muliakan sebagai "Tamu Agung", persiapan jiwa atau tazkiyatun nafs menjadi agenda yang sangat krusial. Namun, bagaimana mungkin kita bisa menyambut tamu semulia itu jika rumah batin kita masih penuh dengan tumpukan polusi informasi? Detoks digital kini bukan sekadar tren kesehatan mental untuk mereduksi stres; ia adalah bentuk nyata dari mujahadah an-nafs—sebuah perjuangan merebut kembali kedaulatan batin dari algoritma demi meraih kesucian jiwa yang paripurna.

Baca Juga: Warna-WarniKeluarga Menyambut Bulan Puasa

Informasi adalah "Sampah" yang Nyata bagi Batin

Dalam diskursus ecosophy yang dikembangkan oleh pemikir seperti Sayyed Hossein Nasr, krisis lingkungan yang kita hadapi saat ini hanyalah cerminan dari krisis spiritual manusia. Manusia yang kehilangan kearifan dalam mengelola "rumah tangga" dunianya cenderung melakukan perusakan, baik di alam fisik maupun di alam pikiran. Menariknya, gaya hidup minim sampah (zero waste) tidak hanya berlaku untuk benda fisik, tetapi sangat krusial bagi konsumsi informasi kita.

Informasi dapat menjadi "sampah" yang meracuni ekosistem batin. Laksana sebuah pohon, pertumbuhan spiritual kita memerlukan tanah yang bersih dari racun agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang rabbani. Jika tanah batin kita terus-menerus disirami hoaks keagamaan, ghibah digital, dan konten laghwi (sia-sia), maka pertumbuhan iman kita akan kerdil. Islam mengecam keras perilaku berlebih-lebihan ini, termasuk dalam mengonsumsi informasi yang tidak memberikan manfaat ukhrawi.

"Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra: 27)

Gawai sebagai "Berhala Baru" dalam Kurikulum Mandiri

Tujuan utama dari pembinaan karakter atau tarbiyah adalah menjaga agar fitrah manusia tetap suci. Namun, di era siber, gawai yang seharusnya menjadi wasilah (sarana) dakwah sering kali bergeser fungsinya menjadi distraksi yang melalaikan. Jika tidak dikendalikan, gawai bisa bertransformasi menjadi "berhala baru" yang menyedot perhatian kita lebih besar daripada dzikrullah.

Oleh karena itu, kecakapan literasi digital harus diintegrasikan ke dalam kurikulum pembinaan diri mandiri (tarbiyah dzatiyah). Mengambil kendali penuh atas gawai adalah langkah pertama untuk memulihkan "kekeringan spiritual" yang kita rasakan. Kita harus memastikan bahwa batin hanya menerima asupan informasi yang thayyib (baik) agar ia memiliki energi yang cukup untuk menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk.

Baca Juga: I’tikafPertama Adik

Bahaya Laten "Ghibah Digital" dan Kesia-siaan

Ada perbedaan tajam antara al-laghw dan ghibah digital, namun keduanya memiliki daya rusak yang sama terhadap keberkahan. Al-laghw adalah kesia-siaan, seperti aktivitas scrolling tanpa henti yang menumpulkan sensitivitas hati terhadap ayat-ayat Allah. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menegaskan bahwa menjauhi kesia-siaan adalah syarat mutlak bagi seorang mukmin untuk mencapai keberuntungan (falah).

Sementara itu, ghibah digital jauh lebih beracun daripada ghibah konvensional. Ia memiliki daya sebar masif dan jejak permanen di ruang digital. Satu komentar buruk atau satu sebaran fitnah dapat menjadi "tumpukan dosa" yang terus mengalir karena jejak digitalnya yang sulit dihapus. Tanpa detoks digital, jari-jari kita mungkin masih membawa kotoran ghibah saat kita mencoba bersimpuh di malam-malam Lailatul Qadar.

Empat Pilar Teologis Detoks Digital

Berdasarkan prinsip-prinsip Qur’ani dalam Tafsir Al-Munir, terdapat empat pilar yang harus menjadi landasan dalam melakukan reset digital:

  • Tawazun (Moderasi): Menjaga harmoni antara kebutuhan duniawi dan spiritual. Penggunaan gawai secara berlebihan adalah bentuk nyata dari israf (ekstravagansi/berlebih-lebihan) yang dilarang karena merusak keseimbangan jiwa.
  • Mujahadah an-Nafs (Pengendalian Diri): Upaya sadar untuk melawan dorongan impulsif saat melihat notifikasi. Ini adalah latihan regulasi diri untuk memastikan kita yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
  • Ijtinab al-Laghw (Menjauhi Kesia-siaan): Secara aktif membatasi jam penggunaan gawai dan memfilter konten yang tidak memberikan nilai tambah bagi akhirat.
  • Muraqabah (Kesadaran Diawasi Allah): Menumbuhkan perasaan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap ketikan, komentar, dan konten yang kita konsumsi di ruang privat digital.

Strategi Praktis "Reset Total" Menuju Ramadhan

Perubahan membutuhkan langkah nyata dan terukur. Berikut adalah strategi manajemen ibadah digital yang dapat Anda terapkan segera:

1.    Audit Digital (Muhasabah): Gunakan fitur screen time untuk mengevaluasi aplikasi mana yang paling banyak menyita waktu Anda. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah penggunaan aplikasi ini mendekatkan saya pada Allah atau justru menjauhkan?"

2.    Pembersihan Konten (Decluttering): Unfollow akun-akun yang memicu penyakit hati seperti hasad (iri) atau kesombongan. Beranikan diri untuk keluar atau membisukan (mute) grup komunikasi yang lebih banyak berisi ghibah dan debat kusir.

3.    Menetapkan "Zona Merah" Gawai: Untuk menjaga kesucian waktu-waktu utama, hindari menyentuh ponsel pada periode krusial: satu jam sebelum tidur, saat sahur, dan menjelang berbuka puasa (Iftar).

4.    Substitusi Thayyib: Ganti kebiasaan scrolling yang sia-sia dengan konten bermakna, seperti tadabbur Al-Qur'an digital atau mendengarkan kajian tafsir. Manfaatkan gerakan kolektif seperti "Satu Jam Tanpa Gawai" untuk membangun kembali kehangatan dengan keluarga di dunia nyata.

Baca Juga:  Maafkan Kami, RamadhanJika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka

Kesimpulan: Mengistirahatkan Jari, Menyejukkan Hati

Melakukan detoks digital menjelang Ramadhan adalah manifestasi cinta kita kepada sang "Tamu Agung". Penyucian jiwa menuntut keberanian untuk melepaskan ketergantungan pada dunia maya demi meraih kemanisan iman di dunia nyata. Kita tentu tidak ingin menyambut bulan suci dengan hati yang penuh sampah informasi dan jari-jari yang masih kotor oleh dosa digital.

Mulailah dengan langkah kecil hari ini: matikan satu notifikasi yang tidak perlu, hapus satu aplikasi yang melalaikan, dan sediakan waktu hening untuk bercengkerama dengan Sang Pencipta.

Apakah hati kita sudah cukup bersih dari sampah informasi untuk menerima keberkahan Ramadhan tahun ini?

 

Senin, 28 Juli 2025

Transkrip Video "Review Buku Life Begins at 40: Hidup Baru Setelah usia 40 Tahun Bagian Pertama, Pengenalan Buku dan Bab Mukaddimah

Transkrip Video "Review Buku Life Begins at 40: Hidup Baru Setelah usia 40 Tahun  Bagian Pertama, Pengenalan Buku dan Bab Mukaddimah"


 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil alamin, Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad.

Baik, Teman-teman, rekan-rekan, dan sahabat-sahabat sekalian, seperti yang saya janjikan pada video pertama saya, buku yang pertama kali akan saya ulas adalah buku yang berjudul Life Begins at 40: Hidup Baru Setelah Usia 40 Tahun, buah karya dari Dr. Muhammad Musad Syarif.

Sebelum saya melanjutkan, ada beberapa hal yang mungkin perlu saya jelaskan, yaitu video ini adalah raw video. Walaupun begitu, saya membuatnya dengan dua aplikasi. Yang pertama untuk perekaman adalah Bandicam yang unregistered, yang cuma bisa merekam sampai 10 menit maksimal. Tetapi, tidak masalah, nanti videonya kita maksimalkan saja 10 menit karena saya termasuk orang yang kurang bagus dalam mengedit. Jadi, saya memakai apa adanya saja. Dan untuk mind mapping-nya, saya memakai XMind untuk mind mapping-nya.

Minggu, 27 Juli 2025

Mengapa Saya Memuat Video Resume Buku di Channel YouTube

  

Mengapa Saya Memuat Video Resume Buku di Channel YouTube
Oleh: Eddy Syahrizal



Assalamualaikum Wr Wb

Saya Eddy Syahrizal. Sejak muda, saya jatuh cinta pada buku—membaca membuat saya mengenal dunia, memahami hidup, dan memperbaiki diri.

Saya masih ingat pertama kali jatuh cinta pada buku. Ada semacam keheningan yang mengalir saat membuka halaman pertama, seperti membuka pintu menuju dunia yang tak terbatas. Dari buku, saya belajar memahami kehidupan, memaknai perjalanan, dan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Tapi ada satu pertanyaan yang terus menghantui: apa yang akan saya tinggalkan setelah membaca begitu banyak buku?

Rabu, 28 Mei 2025

Selamat Jalan Saudari-Saudariku

 

Selamat Jalan Saudari-Saudariku 

Selamat Jalan Saudari-Saudariku
Selamat Jalan Saudari-Saudariku 

 

Selamat jalan saudari-saudari kami, Langkah-langkahmu menyadarkan kami tentang kesempatan hidup, arti keseriusan dan kesungguhan dalam berjihad, pengorbanan harta, raga, bahkan jiwa ....    

 

(Hal 28) Dihadiri sekitar 400 orang kader Partai Keadilan, Ahad malam (18/4), dilaksanakan tabligh Akbar, temu kader dan peresmian DPC Partai Keadilan Muara Rupit Musi Rawas Sumsel.

Usai acara, sekitar pukul 21.30 WIB, kami, rombongan kader dari lubuk linggau meninggalkan tempat dengan menggunakan 3 mobil mikolet. Sekitar pukul 23.00 kami sudah berada di jalan Lintas Sumatera km 9, Desa Sumberagung, Kecamatan Ulu Trawas Mura, sekitar 50 km dari kota Lubuk Linggau.

Rabu, 21 Mei 2025

Da’wah dan Loyalitas Khusus

  

Da’wah dan Loyalitas Khusus 

Oleh Imam Nurwahyo  

Da’wah dan Loyalitas Khusus
Da’wah dan Loyalitas Khusus  

 

(Hal 24) Tak ada yang tak terikat dalam hidup ini. Air terikat dengan anatomi H2O-nya. Matahari, Bumi, dan Bulan terpaku pada lintasan orbitnya. Binatang terbelenggu dengan habitatnya. 

Meski, ada monyet pandai berjoget, beruang menggenjot sepeda, lumba-lumba pandi berhitung, singa menerobos lingkaran api, gajah bermain bola, tapi toh mereka tetap binatang yang tak kan berubah jadi manusia. Semua terika t dengan berbagai status dirinya itu.

Keterikatan dengan status itulah dasar loyalitas. Bila loyalitas ini rusak, rusak pula semuanya. Sekali harimau mendekam di kebun binatang, ia tak akan selincah kala masih di hutan. Begitu juga manusia, begitu unsur loyalitasnya tumpul, mata buta, hati mati, telinga tuli,

”Mereka bagaikan hewan ternak, bahkan lebih sesat.”

(QS Al A’raf: 179)

Rabu, 14 Mei 2025

SDM Amal Profesional

  

SDM Amal Profesional
SDM Amal Profesional 

Oleh B. S Wibowo, Dipl. Rad. SKM    

(Hal 22) Untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam segala sisi kehidupan, tak cukup hanya berbekal keshalihan individu. Tidak juga sebatas kebersihan moral dan komitmen niat. Semua itu harus didukung dengan SDM yang punya keshalihan kolektif, dapat mengembangkan diri, dan mampu beramal dengan profesional.

Ada beberapa alasan kuat mengapa umat Islam dan pekerja dakwah khususnya semakin dituntut memiliki hal-hal tersebut diatas.