Minggu, 18 Agustus 2024

Para Pencipta Kemakmuran

 

Para Pencipta Kemakmuran 

Oleh M. Anis Matta

Para Pencipta Kemakmuran
Para Pencipta Kemakmuran


(Hal-78)  lelaki kaya raya itu menangis tersedu-sedu, selama berhari-hari, menjelang kematiannya. Bukan karena ia takut mati. Atau sedih karena harus meninggalkan kekayaannya yang melimpah ruah. Ia justru sedih karena tak mengerti bagaimana menafsirkan makna kekayaan dan kemakmurannya.

Begini ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Ada sahabat Rasulullah Saw yang jauh lebih baik dariku, yaitu Mush’ab bin Umair, yang ketika wafat tidak meninggalkan harta sedikitpun juga. Ia bahkan tidak punya cukup kain kafan untuk menutupi jasadnya, hingga jika kepalanya ditutup maka kepalanya terbuka. Lalu apa artinya bahwa mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah ini sementara mereka tidak? Tidakkah kekayaan ini malah akan mengantarkan aku ke neraka?”

Rahasia Menemukan Sahabat Sejati: Mengapa Doa dan Kesendirian Adalah Kunci


Di tengah riuhnya kebisingan digital yang sering kali mengaburkan pandangan batin, menemukan lingkaran pertemanan yang tulus terasa seperti mencari frekuensi yang jernih di tengah badai sinyal. Kita merindukan kehadiran sosok yang tak hanya memenuhi ruang obrolan, namun mampu menguatkan jangkar iman saat jiwa mulai terombang-ambing.Langkah pertama untuk memecah kebuntuan sosial ini bukanlah dengan memperluas relasi, melainkan dengan memanjatkan doa yang telah dipraktikkan para pendahulu kita. Sebuah permohonan tulus yang berbunyi:  "Allahumma yassir lii jaliisan shaalihan" .

Rahasia Menemukan Sahabat Sejati_ Mengapa Doa dan Kesendirian Adalah Kunci


Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Kehidupan?

 

Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Kehidupan? 

Oleh  DR. Ali Al Hammadi

Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Kehidupan?
Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Kehidupan? 


(Hal-64)  Di tahun 1930-an, ada seseorang mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi di Mesir. Ketika datang waktu shalat, ia segera mencari tempat untuk melakukan shalat. Ia bertanya kepada para mahasiswa lain dan ditunjukkan sebuah tempat untuk melakukan shalat. 

Tempat yang ditunjukkan itu bukan tempat yang biasa digunakan mahasiswa untuk belajar, melainkan sebuah ruangan kecil, ruangan bawah tanah yang pengap. Di sanalah tempat shalat yang ditunjukkan teman-temannya. Tapi ia tidak punya pilihan lain, kecuali pergi ke tempat itu dan shalat di ruangan itu. Ia sendiri merasa heran dengan rekan-rekannya yang tidak memperhatikan datangnya waktu shalat. Apakah mereka shalat atau tidak.