![]() |
| Detoks Digital Jelang Ramadhan |
Manusia modern saat ini hidup dalam sebuah paradoks
konektivitas yang ganjil. Kita begitu terhubung secara digital—notifikasi
berdering setiap detik, linimasa terus diperbarui—namun di saat yang sama, kita
sering merasakan kekeringan spiritual yang akut. Batin kita terasa bising namun
hampa, penuh informasi namun miskin makna.
Menjelang kedatangan Ramadhan yang kita muliakan sebagai
"Tamu Agung", persiapan jiwa atau tazkiyatun nafs menjadi
agenda yang sangat krusial. Namun, bagaimana mungkin kita bisa menyambut tamu
semulia itu jika rumah batin kita masih penuh dengan tumpukan polusi informasi?
Detoks digital kini bukan sekadar tren kesehatan mental untuk mereduksi stres;
ia adalah bentuk nyata dari mujahadah an-nafs—sebuah perjuangan merebut
kembali kedaulatan batin dari algoritma demi meraih kesucian jiwa yang
paripurna.
Baca Juga: Warna-WarniKeluarga Menyambut Bulan Puasa
Informasi adalah "Sampah" yang Nyata bagi Batin
Dalam diskursus ecosophy yang dikembangkan oleh
pemikir seperti Sayyed Hossein Nasr, krisis lingkungan yang kita hadapi
saat ini hanyalah cerminan dari krisis spiritual manusia. Manusia yang
kehilangan kearifan dalam mengelola "rumah tangga" dunianya cenderung
melakukan perusakan, baik di alam fisik maupun di alam pikiran. Menariknya,
gaya hidup minim sampah (zero waste) tidak hanya berlaku untuk benda
fisik, tetapi sangat krusial bagi konsumsi informasi kita.
Informasi dapat menjadi "sampah" yang meracuni
ekosistem batin. Laksana sebuah pohon, pertumbuhan spiritual kita memerlukan
tanah yang bersih dari racun agar dapat tumbuh menjadi pribadi yang rabbani.
Jika tanah batin kita terus-menerus disirami hoaks keagamaan, ghibah digital,
dan konten laghwi (sia-sia), maka pertumbuhan iman kita akan kerdil.
Islam mengecam keras perilaku berlebih-lebihan ini, termasuk dalam mengonsumsi
informasi yang tidak memberikan manfaat ukhrawi.
"Sesungguhnya para pemboros itu adalah
saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."
(QS. Al-Isra: 27)
Gawai sebagai "Berhala Baru" dalam Kurikulum
Mandiri
Tujuan utama dari pembinaan karakter atau tarbiyah
adalah menjaga agar fitrah manusia tetap suci. Namun, di era siber, gawai yang
seharusnya menjadi wasilah (sarana) dakwah sering kali bergeser
fungsinya menjadi distraksi yang melalaikan. Jika tidak dikendalikan, gawai
bisa bertransformasi menjadi "berhala baru" yang menyedot perhatian
kita lebih besar daripada dzikrullah.
Oleh karena itu, kecakapan literasi digital harus
diintegrasikan ke dalam kurikulum pembinaan diri mandiri (tarbiyah dzatiyah).
Mengambil kendali penuh atas gawai adalah langkah pertama untuk memulihkan
"kekeringan spiritual" yang kita rasakan. Kita harus memastikan bahwa
batin hanya menerima asupan informasi yang thayyib (baik) agar ia
memiliki energi yang cukup untuk menjalankan ibadah Ramadhan dengan khusyuk.
Baca Juga: I’tikafPertama Adik
Bahaya Laten "Ghibah Digital" dan Kesia-siaan
Ada perbedaan tajam antara al-laghw dan ghibah
digital, namun keduanya memiliki daya rusak yang sama terhadap keberkahan. Al-laghw
adalah kesia-siaan, seperti aktivitas scrolling tanpa henti yang
menumpulkan sensitivitas hati terhadap ayat-ayat Allah. Wahbah az-Zuhaili dalam
Tafsir Al-Munir menegaskan bahwa menjauhi kesia-siaan adalah syarat
mutlak bagi seorang mukmin untuk mencapai keberuntungan (falah).
Sementara itu, ghibah digital jauh lebih beracun daripada
ghibah konvensional. Ia memiliki daya sebar masif dan jejak permanen di ruang
digital. Satu komentar buruk atau satu sebaran fitnah dapat menjadi
"tumpukan dosa" yang terus mengalir karena jejak digitalnya yang
sulit dihapus. Tanpa detoks digital, jari-jari kita mungkin masih membawa
kotoran ghibah saat kita mencoba bersimpuh di malam-malam Lailatul Qadar.
Empat Pilar Teologis Detoks Digital
Berdasarkan prinsip-prinsip Qur’ani dalam Tafsir
Al-Munir, terdapat empat pilar yang harus menjadi landasan dalam melakukan
reset digital:
- Tawazun
(Moderasi): Menjaga harmoni
antara kebutuhan duniawi dan spiritual. Penggunaan gawai secara berlebihan
adalah bentuk nyata dari israf (ekstravagansi/berlebih-lebihan)
yang dilarang karena merusak keseimbangan jiwa.
- Mujahadah
an-Nafs (Pengendalian Diri): Upaya sadar untuk melawan dorongan impulsif saat melihat notifikasi.
Ini adalah latihan regulasi diri untuk memastikan kita yang mengendalikan
teknologi, bukan sebaliknya.
- Ijtinab
al-Laghw (Menjauhi Kesia-siaan): Secara aktif membatasi jam penggunaan gawai dan memfilter konten yang
tidak memberikan nilai tambah bagi akhirat.
- Muraqabah
(Kesadaran Diawasi Allah):
Menumbuhkan perasaan bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap ketikan,
komentar, dan konten yang kita konsumsi di ruang privat digital.
Strategi Praktis "Reset Total" Menuju Ramadhan
Perubahan membutuhkan langkah nyata dan terukur. Berikut
adalah strategi manajemen ibadah digital yang dapat Anda terapkan segera:
1.
Audit
Digital (Muhasabah): Gunakan
fitur screen time untuk mengevaluasi aplikasi mana yang paling banyak
menyita waktu Anda. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah penggunaan
aplikasi ini mendekatkan saya pada Allah atau justru menjauhkan?"
2.
Pembersihan
Konten (Decluttering): Unfollow
akun-akun yang memicu penyakit hati seperti hasad (iri) atau kesombongan.
Beranikan diri untuk keluar atau membisukan (mute) grup komunikasi yang
lebih banyak berisi ghibah dan debat kusir.
3.
Menetapkan
"Zona Merah" Gawai: Untuk
menjaga kesucian waktu-waktu utama, hindari menyentuh ponsel pada periode
krusial: satu jam sebelum tidur, saat sahur, dan menjelang berbuka puasa
(Iftar).
4.
Substitusi
Thayyib: Ganti kebiasaan scrolling
yang sia-sia dengan konten bermakna, seperti tadabbur Al-Qur'an digital atau
mendengarkan kajian tafsir. Manfaatkan gerakan kolektif seperti "Satu Jam
Tanpa Gawai" untuk membangun kembali kehangatan dengan keluarga di dunia
nyata.
Baca Juga: Maafkan Kami, RamadhanJika Ibadah Kami Sangat Jauh dari Mereka
Kesimpulan: Mengistirahatkan Jari, Menyejukkan Hati
Melakukan detoks digital menjelang Ramadhan adalah
manifestasi cinta kita kepada sang "Tamu Agung". Penyucian jiwa
menuntut keberanian untuk melepaskan ketergantungan pada dunia maya demi meraih
kemanisan iman di dunia nyata. Kita tentu tidak ingin menyambut bulan suci
dengan hati yang penuh sampah informasi dan jari-jari yang masih kotor oleh
dosa digital.
Mulailah dengan langkah kecil hari ini: matikan satu
notifikasi yang tidak perlu, hapus satu aplikasi yang melalaikan, dan sediakan
waktu hening untuk bercengkerama dengan Sang Pencipta.
Apakah hati kita sudah cukup bersih dari sampah informasi
untuk menerima keberkahan Ramadhan tahun ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar