Telitilah,
pikirkanlah tentang orang-orang hebat itu. Mereka yang mengukir hidupnya dengan
tinta yang selalu nyata dalam lembar-lembar sejarah.Telitilah sekali lagi dari
sisi yang berbeda. Kita akan menemukan realitas yang mungkin selama ini luput
dari pandangan mata kita.
Kehebatan
Tetaplah Manusiawi
Saudaraku, kepandaian, keulungan, kehebatan, keluarbiasaan seseorang, bagaimanapun tetaplah ia manusia. Kita mungkin terpana dengan kehebatannya yang jarang dimiliki orang lain.Kita mungkin juga terkagum-kagum dengan kebiasaannya yang tidak banyak dipunyai orang selainnya. Tapi, bagaimanapun ia tetaplah manusia.Menyadari realitas ini sangat penting bagi kedamaian batin kita. Hal ini membantu kita memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan di tengah segala kelebihannya.
Kontradiksi
dalam Potensi Diri
Ada orang yang
Allah Swt berikan kemampuan berpikir dan menganalisa begitu dalam dan tajam
dalam suatu masalah, tapi ia hampir tak mampu berbicara dan menyampaikan
pandangannya dengan baik.Atau, kebalikannya, ada orang yang begitu mahir
menyampaikan pikirannya, sementara ketajaman pikiran dan analisanya bisa
dikatakan standar saja.Ada orang yang terkenal sangat murah hati, mudah memberi
dan penuh belas kasih terhadap orang yang memerlukannya. Tapi di sisi lain, ia
penakut, penuh khawatir terhadap kemungkinan, dan cenderung memilih diam
ketimbang melakukan sesuatu yang baik tapi berisiko.Ada orang yang kaya dan
memiliki harta banyak, tapi ternyata ia mempunyai saudara yang miskin.Ada pula
orang yang menghapal Al Qur’an dan bahkan banyak menghapal hadits-hadits
Rasulullah Saw, tapi ia tak memiliki obsesi atau semangat berdakwah.Sementara
ada orang yang semangat dan obsesi dakwahnya begitu tinggi, tapi ia minim
hafalan Al Qur’annya dan ilmu keislamannya. Apa yang kita pahami dari semua
realitas ini?
Keterbatasan
Para Ulama Besar
Saudaraku, mari
kita perhatikan sisi-sisi hidup seperti itu pada diri ulama dan salafushalih.
Bahkan figur otoritas ilmu agama yang kita kenal sangat hebat pun memiliki
keterbatasan yang manusiawi.
Imam
Jalaluddin Al Mahally
Adalah Imam
Jalaluddin Al Mahally seorang tokoh besar mazhab Syafi’i. Dialah yang menulis
kitab tafsir terkenal berjudul “Al Jalalain”.Tapi tahukah kita, Imam Jalaluddin
dalam riwayat tentangnya disebutkan sebagai ulama lemah dalam hafalan?
Disebutkan, beliau berupaya menghapal satu bagian dari suatu buku, dan itu
memerlukan waktu lama sekali.Sampai satu pekan lamanya, ia bahkan belum bisa
menghapal satu lembar pun dari buku itu. Karena upaya dan keseriusannya
menghapal, ia pun mengalami sakit demam dan mengeluh pusing yang sangat di
kepalanya hingga menyatakan gagal menghapal.
Imam
As Syuyuthi
Ada pula Imam As
Syuyuthi rahimahullah. Siapakah yang tidak pernah mendengar nama ulama yang
banyak menganalisa hadits-hadits Rasulullah Saw ini?Ternyata, Imam Suyuthi
adalah orang yang lemah dalam urusan hitung-menghitung. Keterbatasan ini tidak
mengurangi kemuliaan ilmunya di bidang hadits.
Imam
Ibnu Taimiyah
Tokoh sekaliber
Imam Ibnu Taimiyah pakar dalam ilmu hadits, fiqih, mengajar, menyampaikan
fatwa, sejak masih berusia 17 tahun. Beliau juga mendalami ilmu tafsir dan
beragam ilmu Islam lainnya.Tapi, ia tidak memiliki ilmu qiraat atau pembacaan
Al Qur’an yang berbeda-beda. Hal ini membuktikan bahwa kapasitas intelektual
besar tetap memiliki celah kekosongan.
Kisah
Unik Syaikh Khudhari Bek
Saudaraku, ada
kisah lucu terkait hal ini tentang Syaikh Khudhari Bek rahimaullah. Beliau
seorang ulama yang menulis banyak kitab tentang sejarah Rasulullah Saw, sejarah
para Khulafa Ar Rashidin, sejarah Daulah Umawiyah, dan Abbasiyah.Ali Thanthawi
memiliki kisah tentang Khudhari Bek, katanya:“Syaikh Khudhari di akhir-akhir
usianya mengalami sakit. Ia menduga bahwa dalam usus di perutnya terdapat ular.
Syekh Khudhari berusaha melakukan konfirmasi tentang dugaan itu kepada dokter.
Ia juga bertanya ke sejumlah ulama. Tapi umumnya mereka segan menerangkan
penyakit yang diderita Syekh Khudhari. Dengan maksud bergurau mereka
mengatakan, ‘Di dalam usus ada sarang cacing, tidak mungkin sarang ular.’ Tapi
syekh Khudhari tetap tidak percaya. Ia pun mencari ahli kedokteran yang
kebetulan ahli kejiwaan. Setelah menyampaikan kisah dan keluhannya, sang dokter
berusaha menenangkannya dengan menjadikannya tidak sadar. Setelah sadar, sang
dokter meletakkan ular kecil di hadapannya dan menggambarkan ular seperti
itulah yang selama ini menjadikannya sakit. Melihat ular itu, air muka Syekh
Khudhari berseri-seri. Tubuhnya menjadi segar dan ia merasa sehat bahkan bisa
berjalan dan meloncat. Setelah sebelumnya ia mengeluh sakit. Setelah itu Syekh
Khudhari tidak pernah sakit lagi.”
Kegagalan
Personal di Balik Kesuksesan Publik
Saudaraku, kita
umumnya pernah mengenal nama Dale Carnegie. Ia tercatat telah memberikan
sebanyak 150 ribu pidato dalam partisipasinya di berbagai program pendidikan.Ia
mengembangkan kursus keterampilan dasar hubungan antar manusia dengan prinsip:
lihatlah sesuatu dari perspektif orang lain, berikan penghargaan dengan jujur
dan tulus serta kembangkan empati.Tapi ternyata Dale Carnegie bukan sosok yang
dianggap sukses membina komunikasi dalam rumah tangganya. Pernikahan pertamanya
berakhir dengan perceraian, lalu ia menikah lagi yang berakhir dengan
perceraian.
Analisis
dan Hikmah: Mengapa Tidak Ada Kesempurnaan
Apa yang kita
pelajari dari semua hal ini? Kepandaian dan keluarbiasaan di satu sisi, yang
menyimpan aib dan kekurangan di sisi lain.Kehebatan yang mengagumkan banyak
orang, yang menutupi sisi kelemahan dan mengherankan banyak orang. Semuanya
menunjukkan dan meneguhkan bahwa tak ada yang sempurna dalam hidup yang
diciptakan Allah Swt.Tidak ada kesempurnaan, keluarbiasaan, kehebatan sejati
kecuali milik Allah Swt. Ketidaksempurnaan ini adalah milik kita semuanya, dan
itu menyebabkan tak satu pun dari kita layak memandang rasa sombong atas
prestasi, pendapat dan pemikiran.Itu sebabnya juga, Allah Swt meski menempatkan
Rasulullah Saw di tempat yang sangat mulia di hati kita, namun Rasulullah Saw
juga bersabda: "Innii basyarun ansaa kamaa tansauun," aku ini adalah
manusia yang bisa lupa sebagaimana kalian lupa.
Kesimpulan:
Menghargai Tanpa Mengagungkan Berlebihan
Menerima, bahwa
seorang yang dimudahkan Allah Swt memiliki sebuah keistimewaan, tetap memiliki
kekurangan, yang tidak menghapus keistimewaan itu. Kesadaran ini menuntun kita
pada kerendahan hati.Barangkali, hikmah lain yang penting juga kita sadari
adalah tidak begitu mudah mengagungkan sosok orang secara berlebihan.
Sebagaimana tidak gampang menjatuhkan vonis yang merendahkan orang yang semula
dikenal mempunyai kelebihan.Saudaraku, puji Allah Swt atas karunia-Nya yang
luar biasa kepada kita. Dan bertanyalah pada diri sendiri, apa yang sudah kita
tulis di lembar-lembar hidup kita sekarang?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar