Selasa, 27 Agustus 2024

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Tokoh Besar: Sebuah Jalan Menuju Penerimaan Diri


Telitilah, pikirkanlah tentang orang-orang hebat itu. Mereka yang mengukir hidupnya dengan tinta yang selalu nyata dalam lembar-lembar sejarah.Telitilah sekali lagi dari sisi yang berbeda. Kita akan menemukan realitas yang mungkin selama ini luput dari pandangan mata kita.

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Tokoh Besar_ Sebuah Jalan Menuju Penerimaan Diri


Kehebatan Tetaplah Manusiawi

Saudaraku, kepandaian, keulungan, kehebatan, keluarbiasaan seseorang, bagaimanapun tetaplah ia manusia. Kita mungkin terpana dengan kehebatannya yang jarang dimiliki orang lain.Kita mungkin juga terkagum-kagum dengan kebiasaannya yang tidak banyak dipunyai orang selainnya. Tapi, bagaimanapun ia tetaplah manusia.Menyadari realitas ini sangat penting bagi kedamaian batin kita. Hal ini membantu kita memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan di tengah segala kelebihannya.

Kontradiksi dalam Potensi Diri

Ada orang yang Allah Swt berikan kemampuan berpikir dan menganalisa begitu dalam dan tajam dalam suatu masalah, tapi ia hampir tak mampu berbicara dan menyampaikan pandangannya dengan baik.Atau, kebalikannya, ada orang yang begitu mahir menyampaikan pikirannya, sementara ketajaman pikiran dan analisanya bisa dikatakan standar saja.Ada orang yang terkenal sangat murah hati, mudah memberi dan penuh belas kasih terhadap orang yang memerlukannya. Tapi di sisi lain, ia penakut, penuh khawatir terhadap kemungkinan, dan cenderung memilih diam ketimbang melakukan sesuatu yang baik tapi berisiko.Ada orang yang kaya dan memiliki harta banyak, tapi ternyata ia mempunyai saudara yang miskin.Ada pula orang yang menghapal Al Qur’an dan bahkan banyak menghapal hadits-hadits Rasulullah Saw, tapi ia tak memiliki obsesi atau semangat berdakwah.Sementara ada orang yang semangat dan obsesi dakwahnya begitu tinggi, tapi ia minim hafalan Al Qur’annya dan ilmu keislamannya. Apa yang kita pahami dari semua realitas ini?

Keterbatasan Para Ulama Besar

Saudaraku, mari kita perhatikan sisi-sisi hidup seperti itu pada diri ulama dan salafushalih. Bahkan figur otoritas ilmu agama yang kita kenal sangat hebat pun memiliki keterbatasan yang manusiawi.

Imam Jalaluddin Al Mahally

Adalah Imam Jalaluddin Al Mahally seorang tokoh besar mazhab Syafi’i. Dialah yang menulis kitab tafsir terkenal berjudul “Al Jalalain”.Tapi tahukah kita, Imam Jalaluddin dalam riwayat tentangnya disebutkan sebagai ulama lemah dalam hafalan? Disebutkan, beliau berupaya menghapal satu bagian dari suatu buku, dan itu memerlukan waktu lama sekali.Sampai satu pekan lamanya, ia bahkan belum bisa menghapal satu lembar pun dari buku itu. Karena upaya dan keseriusannya menghapal, ia pun mengalami sakit demam dan mengeluh pusing yang sangat di kepalanya hingga menyatakan gagal menghapal.

Imam As Syuyuthi

Ada pula Imam As Syuyuthi rahimahullah. Siapakah yang tidak pernah mendengar nama ulama yang banyak menganalisa hadits-hadits Rasulullah Saw ini?Ternyata, Imam Suyuthi adalah orang yang lemah dalam urusan hitung-menghitung. Keterbatasan ini tidak mengurangi kemuliaan ilmunya di bidang hadits.

Imam Ibnu Taimiyah

Tokoh sekaliber Imam Ibnu Taimiyah pakar dalam ilmu hadits, fiqih, mengajar, menyampaikan fatwa, sejak masih berusia 17 tahun. Beliau juga mendalami ilmu tafsir dan beragam ilmu Islam lainnya.Tapi, ia tidak memiliki ilmu qiraat atau pembacaan Al Qur’an yang berbeda-beda. Hal ini membuktikan bahwa kapasitas intelektual besar tetap memiliki celah kekosongan.

Kisah Unik Syaikh Khudhari Bek

Saudaraku, ada kisah lucu terkait hal ini tentang Syaikh Khudhari Bek rahimaullah. Beliau seorang ulama yang menulis banyak kitab tentang sejarah Rasulullah Saw, sejarah para Khulafa Ar Rashidin, sejarah Daulah Umawiyah, dan Abbasiyah.Ali Thanthawi memiliki kisah tentang Khudhari Bek, katanya:“Syaikh Khudhari di akhir-akhir usianya mengalami sakit. Ia menduga bahwa dalam usus di perutnya terdapat ular. Syekh Khudhari berusaha melakukan konfirmasi tentang dugaan itu kepada dokter. Ia juga bertanya ke sejumlah ulama. Tapi umumnya mereka segan menerangkan penyakit yang diderita Syekh Khudhari. Dengan maksud bergurau mereka mengatakan, ‘Di dalam usus ada sarang cacing, tidak mungkin sarang ular.’ Tapi syekh Khudhari tetap tidak percaya. Ia pun mencari ahli kedokteran yang kebetulan ahli kejiwaan. Setelah menyampaikan kisah dan keluhannya, sang dokter berusaha menenangkannya dengan menjadikannya tidak sadar. Setelah sadar, sang dokter meletakkan ular kecil di hadapannya dan menggambarkan ular seperti itulah yang selama ini menjadikannya sakit. Melihat ular itu, air muka Syekh Khudhari berseri-seri. Tubuhnya menjadi segar dan ia merasa sehat bahkan bisa berjalan dan meloncat. Setelah sebelumnya ia mengeluh sakit. Setelah itu Syekh Khudhari tidak pernah sakit lagi.”

Kegagalan Personal di Balik Kesuksesan Publik

Saudaraku, kita umumnya pernah mengenal nama Dale Carnegie. Ia tercatat telah memberikan sebanyak 150 ribu pidato dalam partisipasinya di berbagai program pendidikan.Ia mengembangkan kursus keterampilan dasar hubungan antar manusia dengan prinsip: lihatlah sesuatu dari perspektif orang lain, berikan penghargaan dengan jujur dan tulus serta kembangkan empati.Tapi ternyata Dale Carnegie bukan sosok yang dianggap sukses membina komunikasi dalam rumah tangganya. Pernikahan pertamanya berakhir dengan perceraian, lalu ia menikah lagi yang berakhir dengan perceraian.

Analisis dan Hikmah: Mengapa Tidak Ada Kesempurnaan

Apa yang kita pelajari dari semua hal ini? Kepandaian dan keluarbiasaan di satu sisi, yang menyimpan aib dan kekurangan di sisi lain.Kehebatan yang mengagumkan banyak orang, yang menutupi sisi kelemahan dan mengherankan banyak orang. Semuanya menunjukkan dan meneguhkan bahwa tak ada yang sempurna dalam hidup yang diciptakan Allah Swt.Tidak ada kesempurnaan, keluarbiasaan, kehebatan sejati kecuali milik Allah Swt. Ketidaksempurnaan ini adalah milik kita semuanya, dan itu menyebabkan tak satu pun dari kita layak memandang rasa sombong atas prestasi, pendapat dan pemikiran.Itu sebabnya juga, Allah Swt meski menempatkan Rasulullah Saw di tempat yang sangat mulia di hati kita, namun Rasulullah Saw juga bersabda: "Innii basyarun ansaa kamaa tansauun," aku ini adalah manusia yang bisa lupa sebagaimana kalian lupa.

Kesimpulan: Menghargai Tanpa Mengagungkan Berlebihan

Menerima, bahwa seorang yang dimudahkan Allah Swt memiliki sebuah keistimewaan, tetap memiliki kekurangan, yang tidak menghapus keistimewaan itu. Kesadaran ini menuntun kita pada kerendahan hati.Barangkali, hikmah lain yang penting juga kita sadari adalah tidak begitu mudah mengagungkan sosok orang secara berlebihan. Sebagaimana tidak gampang menjatuhkan vonis yang merendahkan orang yang semula dikenal mempunyai kelebihan.Saudaraku, puji Allah Swt atas karunia-Nya yang luar biasa kepada kita. Dan bertanyalah pada diri sendiri, apa yang sudah kita tulis di lembar-lembar hidup kita sekarang?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar