Apa yang ada terlintas
dalam pikiran anda, saat kita mendengar anjuran agar kita berhusnu zann kepada Allah SWT?Husnu zann kepada Allah, memiliki banyak arti tentang
artinya berbaik sangka kepada-Nya.Di dalamnya termasuk rasa optimis memandanga
segala sesuatu berlandaskan sifat Allah Yang Maha Pemurah, Yang Maha Kasih,
Yang Maha Lembut, Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Kuasa, dan lain sebagainya.Di
dalamnya juga termasuk semangat dalam bekerja, beramal shalih, beribadah.Dan
bahkan di dalamnya terkandung unsur jiwa yang pantang menyerah menghadapi
situasi apapun untuk terus berjuang dalam jalan-jalan kebaikan.
Menghadirkan
Husnu Zann dalam Hati Orang Beriman
Begitulah saudaraku, Husnu zann memang sangat luar biasa bila hadir dari hati orang beriman.Ketika seorang hamba mendekat dan merunduk di hadapan Allah, berharap agar amal taatnya diterima oleh Allah.Ketika itu, ia berhusnu zann kepada Allah SWT, bahwa Allah Maha Rahmah, Maha Tahu, Maha Lembut, sehingga ia pun penuh harap bahwa ama-amalnya akan diterima.Husnu zann, masih menurut Imam Al Khitabi, hampir sama dengan sikap rojaa (berharap positif) karena di sana ada unsur keyakinan pada ampunan serta kemurahan Allah Swt. Al Khitabi mengatakan,“sesungguhnya orang yang berbaik sangka kepada Allah adalah orang yang baik amalnya. Seolah ia mengatakan, perbaiki amal kalian, berarti kalian berbaik sangka kepada Allah. Karena orang yang buruk perbuatannya, berarti buruk prasangkanya kepada Allah.”
Prasangka
Baik adalah Bagian dari Ibadah
Karena itu pula, dalam
sebuah hadits riwayat Ahmad disebutkan, “Husnu
zann min husnil ibadah”, berbaik
sangka kepada Allah adalah bagian dari kebaikan dalam beribadah.
Mewaspadai
Sikap Husnu Zann yang Keliru
Saudaraku, tapi tak semua
sikap Husnu zann ini benar.Karena adakalanya sikap Husnu zann kepada Allah itu keliru, yaitu bila yang
menumbuhkan rasa itu adalah orang kafir, atau para pelaku dosa besar dan
pelanggar perintah Allah.Orang seperti itu sebenarnya melakukan sikap suu’uzann kepada Allah karena dosa dan pelanggaran yang
dilakukannya.Wajar, karena sikap Husnu
zann otomatis akan memberi pengaruh
pada kebaikan amal. Sedangkan suu’uzzann kebalikannya, akan menumbuhkan keburukan
dalam amal.Hasan Al Bashri mengatakan,“Sesungguhnya seorang Mukmin
memperbagus prasangkanya kepada Tuhannya, lalu ia memperbagus amalannya.
Berbeda dengan orang yang banyak berdosa, ia buruk sangka terhadap Tuhannya,
lalu memperburuk amal perbuatannya.”
Karakter
Suu’uzzann pada Kelompok Munafiqin
Saudaraku, ada satu
kelompok orang yang penting kita ingat tentang sifat Husnuz zann ini, yaitu kelompok munafiqin, semoga Allah
melindungi kita dari termasuk dalam barisan mereka.Kelompok inilah yang
disinggung secara langsung oleh Allah SWT karena sifat suu’uzzann billah.
Pelajaran
dari Peristiwa Perang Uhud
Mereka meninggalkan
Rasulullah di saat-saat genting, pada peperangan Uhud. Ucapan salah seorang
dari mereka diabadikan oleh Al Qur’an:“Sedang segolongan lagi telah
dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap
Allah seperti sangkaan jahiliyah.” (QS. Ali Imran: 154)Tentang mereka
Allah SWT mengatakan:“Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu
berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan)
yang amat buruk.” (QS. Al Fath: 6)Mereka memperkirakan bahwa
orang-orang kafir akan menang dan orang-orang beriman akan kalah.Atau secara
umum mereka menganggap bahwa agama ini tidak akan bisa berdiri tegak.Padahal
agama ini adalah milik Allah SWT, dan Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sikap
Putus Asa dan Patah Arang dari Rahmat Allah
Ternyata banyak di antara
kita yang kurang menyadari, bahwa di antara sikap suu’uz zann yang dilarang, adalah sikap putus asa, dan
patah arang dari rahmat Allah dan kekuasaan-Nya.
Berprasangka
Buruk Terhadap Masa Depan Dakwah dan Doa
Termasuk di dalamnya,
anggapan bahwa orang-orang shalih dan mereka memperjuangkan agama ini akan
hidup sengsara dan terhina di dunia.Atau menganggap bahwa para pejuang agama
ini tidak akan berhasil, dan masa depan dunia bukan milik umat Islam, dan
semacamnya.Pelajaran terbesarnya adalah kita diperintahkan untuk selalu optimis
memandang masa depan orang-orang yang beriman, masa depan Islam, masa depan
dakwah, masa depan orang-orang shalih, dan masa depan al haq.Termasuk suu’uzzann terhadap Allah adalah menganggap doa yang
kita minta kepada Allah SWT tidak dikabulkan, lalu berhenti berdoa.Sebab
kemungkinan besar, Allah menahan kebaikan yang dipinta itu untuk diberikan di
akhirat, atau kemungkinan besar lainnya, Allah merubah kebaikan yang dipinta
pada kebaikan dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat bagi kita.Itulah sebabnya
Rasulullah mengatakan, “Seorang hamba
masih dalam kondisi baik selama ia tidak terburu-buru dalam meminta.” (Al
Hadits)
Membersihkan
Hati dan Menumbuhkan Optimisme
Saudaraku, mari memeriksa
kembali kondisi hati kita.Memeriksanya dengan seksama dan membersihkannya dari
debu yang memuat sikap tidak optimis atas kasih sayang Allah, yang berarti sama
dengan berburuk sangka kepada-Nya.Dengarlah apa yang dikatakan Abdullah bin
Mas’ud radhiallahu anhu,“Demi Allah
yang tidak ada Tuhan kecuali Dia. Tidaklah Allah memberikan sesuatu yang lebih
baik pada seorang hamba Mukmin, melebihi sikap Husnu zann kepada Allah. Dan
tidaklah seorang hamba ber-Husnu zann kepada Allah SWT, kecuali Allah pasti
memberikan apa yang di-Husnu zann-kannya itu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar