Banyak dari kita yang
merasa sudah sampai pada puncak keimanan hanya karena rutin menjalankan ritual
ibadah. Namun, seringkali muncul jurang pemisah yang lebar antara ritual di
tempat ibadah dan realitas perilaku kita sehari-hari.Apakah iman itu cukup hanya
berhenti di lisan, atau ada standar pembuktian yang jauh lebih radikal? Mari
kita renungkan tiga sikap nyata yang menjadi tolok ukur apakah iman benar-benar
telah menghujam dalam sanubari.
Konsep
"Jawaami’ul Kamil"
Menekuni hadist dan sabda Rasulullah saw, selalu menghasilkan nilai-nilai yang begitu dalam maknanya.Sabda Rasulullah saw, disebut para ulama memiliki sifat “jawaami’ul kamil” , perkataan yang singkat, padat dan berbobot.Salah satu sabdanya yang patut kita renungkan menghimpun tiga sikap utama sebagai tanda kesempurnaan iman :"Ada tiga sikap. Bila ketiganya berkumpul pada diri seseorang, terhimpunlah makna keimanan dalam diri orang itu. Yaitu sikap objektif terhadap diri sendiri, menyebarkan salam kepada siapapun (yang dikenal maupun yang tidak dikenal), dan berinfaq di saat kebutuhan terhadap yang diinfaqkan."
Poin
Utama 1: Objektif Terhadap Diri Sendiri
Seni
Jujur dalam Menilai Diri
Sikap jujur meskipun diri
sendiri, seimbang dalam menilai walaupun terhadap diri sendiri, objektif dalam
menghukumi meski terhadap diri sendiri.Itu semua juga berarti
mempertahankan sikap netral di saat kita berselisih dengan pihak
lain.Kita tetap bisa memandang sisi baik orang yang berbeda dan kita anggap
salah, serta melihat sisi negatif dalam diri kita.Sebagian besar orang
mengatakan hal ini mustahil dimiliki karena hampir tidak ada manusia yang
terlepas dari keakuan dan ego
.Umumnya, kita akan selalu mencoba mencari posisi mana yang bisa membenarkan apa yang kita lakukan.Bila kita sulit membela
diri karena jelas bersalah, kita akan mencari sisi niat baik sebagai pembenaran atas kesalahan
tersebut.Kita sering berdalih: ”Saya memang salah, tapi mungkin cara
pengungkapannya yang salah. Sedangkan maksudnya baik.”
Perbandingan:
Mata Kita vs Mata Orang Lain
Ketidakmampuan untuk
objektif membuat kita sangat tajam menilai orang lain, namun buta terhadap diri sendiri :“Salah
seorang kalian melihat bintik kotoran di mata saudaranya. Tapi ia melupakan
kotoran besar yang ada di matanya sendiri.” (HR. Bukhari)Kita cenderung tidak
melihat latar belakang atau niat orang yang dianggap salah, padahal
kita menggunakannya untuk diri sendiri.Sikap objektif ini juga berlaku
pada kelompok atau organisasi .
Jangan menisbatkan kesalahan satu orang menjadi kesalahan seluruh kelompoknya.
Poin
Utama 2: Menyebarkan Salam kepada Siapapun
Ketawaduan
Melalui Sapaan
Memberi salam kepada
siapapun, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, merupakan ciri
dari ketawaduan .Sikap ini
memiliki irisan makna yang jelas dengan objektivitas sebagai tanda kualitas keimanan seseorang.Secara spiritual, membiasakan
menyapa orang asing adalah langkah nyata untuk
menghancurkan ego yang
bersarang di dalam hati.
Poin
Utama 3: Berinfaq di Saat Sulit
Melawan
Kecenderungan Kikir
Memberikan sesuatu kepada
orang lain yang membutuhkan di saat kita sendiri sedang membutuhkan sesuatu itu pastilah tidak mudah.Jiwa manusia
secara alami cenderung menahan yang
ia miliki dan enggan memberikan apa
yang ia butuhkan kepada orang lain.Jika seseorang mampu memiliki sikap ini,
maka hal tersebut menunjukkan:
●
Ketiadaan kesombongan dalam dirinya.
●
Hilangnya ego dari dalam hatinya.
●
Empati yang luar biasa dengan mendahulukan orang lain.Sikap ini
secara otomatis berarti kita telah belajar untuk lebih menghargai orang lain di atas kepentingan pribadi.
Sintesis
& Kesimpulan
Tiga sikap ini—jujur
terhadap diri sendiri, menyebarkan salam, dan berinfaq di saat sulit—adalah
satu kesatuan yang sangat padat
nilainya .Ketiganya saling berkait dan benar-benar menunjukkan kualitas iman yang luar biasa bagi orang yang sanggup melakukannya.Adakah
diantara kita yang sanggup membuktikan keimanan kita dengan melakukan
sikap-sikap itu semua?Mari mulai hari ini dengan satu tantangan kecil:
bersediakah Anda menyapa orang asing yang Anda temui dengan tulus tanpa merasa
lebih tinggi dari mereka?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar