Senin, 31 Agustus 2020

3 Bukti Nyata Keimanan yang Menghancurkan Ego dan Kesombongan


Banyak dari kita yang merasa sudah sampai pada puncak keimanan hanya karena rutin menjalankan ritual ibadah. Namun, seringkali muncul jurang pemisah yang lebar antara ritual di tempat ibadah dan realitas perilaku kita sehari-hari.Apakah iman itu cukup hanya berhenti di lisan, atau ada standar pembuktian yang jauh lebih radikal? Mari kita renungkan tiga sikap nyata yang menjadi tolok ukur apakah iman benar-benar telah menghujam dalam sanubari.

3 Bukti Nyata Keimanan yang Menghancurkan Ego dan Kesombongan


Konsep "Jawaami’ul Kamil"

Menekuni hadist dan sabda Rasulullah saw, selalu menghasilkan  nilai-nilai yang begitu dalam  maknanya.Sabda Rasulullah saw, disebut para ulama memiliki sifat  “jawaami’ul kamil” , perkataan yang singkat, padat dan berbobot.Salah satu sabdanya yang patut kita renungkan menghimpun tiga sikap utama sebagai tanda  kesempurnaan iman :"Ada tiga sikap. Bila ketiganya berkumpul pada diri seseorang, terhimpunlah makna keimanan dalam diri orang itu. Yaitu sikap objektif terhadap diri sendiri, menyebarkan salam kepada siapapun (yang dikenal maupun yang tidak dikenal), dan berinfaq di saat kebutuhan terhadap yang diinfaqkan."

Poin Utama 1: Objektif Terhadap Diri Sendiri

Seni Jujur dalam Menilai Diri

Sikap jujur meskipun diri sendiri, seimbang dalam menilai walaupun terhadap diri sendiri, objektif dalam menghukumi meski terhadap diri sendiri.Itu semua juga berarti mempertahankan  sikap netral  di saat kita berselisih dengan pihak lain.Kita tetap bisa memandang sisi baik orang yang berbeda dan kita anggap salah, serta melihat  sisi negatif  dalam diri kita.Sebagian besar orang mengatakan hal ini  mustahil  dimiliki karena hampir tidak ada manusia yang terlepas dari  keakuan dan ego .Umumnya, kita akan selalu mencoba mencari posisi mana yang bisa  membenarkan  apa yang kita lakukan.Bila kita sulit membela diri karena jelas bersalah, kita akan mencari sisi  niat baik  sebagai pembenaran atas kesalahan tersebut.Kita sering berdalih: ”Saya memang salah, tapi mungkin cara pengungkapannya yang salah. Sedangkan maksudnya baik.”

Perbandingan: Mata Kita vs Mata Orang Lain

Ketidakmampuan untuk objektif membuat kita sangat tajam menilai orang lain, namun  buta terhadap diri sendiri :“Salah seorang kalian melihat bintik kotoran di mata saudaranya. Tapi ia melupakan kotoran besar yang ada di matanya sendiri.” (HR. Bukhari)Kita cenderung tidak melihat  latar belakang  atau niat orang yang dianggap salah, padahal kita menggunakannya untuk diri sendiri.Sikap objektif ini juga berlaku pada  kelompok atau organisasi . Jangan menisbatkan kesalahan satu orang menjadi kesalahan seluruh kelompoknya.

Poin Utama 2: Menyebarkan Salam kepada Siapapun

Ketawaduan Melalui Sapaan

Memberi salam kepada siapapun, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal, merupakan ciri dari  ketawaduan .Sikap ini memiliki irisan makna yang jelas dengan objektivitas sebagai tanda  kualitas keimanan  seseorang.Secara spiritual, membiasakan menyapa orang asing adalah langkah nyata untuk  menghancurkan ego  yang bersarang di dalam hati.

Poin Utama 3: Berinfaq di Saat Sulit

Melawan Kecenderungan Kikir

Memberikan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan di saat kita sendiri  sedang membutuhkan  sesuatu itu pastilah tidak mudah.Jiwa manusia secara alami cenderung  menahan yang ia miliki  dan enggan memberikan apa yang ia butuhkan kepada orang lain.Jika seseorang mampu memiliki sikap ini, maka hal tersebut menunjukkan:

    Ketiadaan kesombongan  dalam dirinya.

    Hilangnya ego  dari dalam hatinya.

    Empati yang luar biasa  dengan mendahulukan orang lain.Sikap ini secara otomatis berarti kita telah belajar untuk lebih  menghargai orang lain  di atas kepentingan pribadi.

Sintesis & Kesimpulan

Tiga sikap ini—jujur terhadap diri sendiri, menyebarkan salam, dan berinfaq di saat sulit—adalah satu kesatuan yang sangat  padat nilainya .Ketiganya saling berkait dan benar-benar menunjukkan  kualitas iman yang luar biasa  bagi orang yang sanggup melakukannya.Adakah diantara kita yang sanggup membuktikan keimanan kita dengan melakukan sikap-sikap itu semua?Mari mulai hari ini dengan satu tantangan kecil: bersediakah Anda menyapa orang asing yang Anda temui dengan tulus tanpa merasa lebih tinggi dari mereka?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar