Di tengah riuhnya kebisingan digital yang sering kali mengaburkan pandangan batin, menemukan lingkaran pertemanan yang tulus terasa seperti mencari frekuensi yang jernih di tengah badai sinyal. Kita merindukan kehadiran sosok yang tak hanya memenuhi ruang obrolan, namun mampu menguatkan jangkar iman saat jiwa mulai terombang-ambing.Langkah pertama untuk memecah kebuntuan sosial ini bukanlah dengan memperluas relasi, melainkan dengan memanjatkan doa yang telah dipraktikkan para pendahulu kita. Sebuah permohonan tulus yang berbunyi: "Allahumma yassir lii jaliisan shaalihan" .
Era Ruhiyah adalah ruang reflektif yang menyajikan motivasi spiritual Islami untuk menguatkan jiwa, mempererat hubungan dengan Allah, dan menumbuhkan ketenangan dalam ibadah. Lewat tulisan yang jernih dan menyentuh, blog ini mengajak muhasabah dan menapaki jalan keshalihan pribadi dan umat. Dengan dakwah lembut yang penuh hikmah, Era Ruhiyah hadir bagi siapa saja yang rindu ketenangan dan ingin memperbaiki diri secara ruhani.
Minggu, 18 Agustus 2024
Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Kehidupan?
Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Kehidupan?
Oleh DR. Ali Al Hammadi
![]() |
| Apa yang Sudah Kita Berikan untuk Kehidupan? |
(Hal-64) Di tahun 1930-an, ada seseorang mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi di Mesir. Ketika datang waktu shalat, ia segera mencari tempat untuk melakukan shalat. Ia bertanya kepada para mahasiswa lain dan ditunjukkan sebuah tempat untuk melakukan shalat.
Tempat yang ditunjukkan itu bukan tempat yang biasa digunakan mahasiswa untuk belajar, melainkan sebuah ruangan kecil, ruangan bawah tanah yang pengap. Di sanalah tempat shalat yang ditunjukkan teman-temannya. Tapi ia tidak punya pilihan lain, kecuali pergi ke tempat itu dan shalat di ruangan itu. Ia sendiri merasa heran dengan rekan-rekannya yang tidak memperhatikan datangnya waktu shalat. Apakah mereka shalat atau tidak.
Sabtu, 17 Agustus 2024
Ramadhan di Unit Terapi dan Rehabilitasi Narkotika, Bogor
Ramadhan di Unit Terapi dan Rehabilitasi Narkotika, Bogor
Oleh Rahmat Ubaidillah
![]() |
| Ramadhan di Unit Terapi dan Rehabilitasi Narkotika, Bogor |
(Hal-58) Ramadhan terus bergulir. Suasana kekhusu’an
sangat terasa saat Tarbawi menyusuri perkampungan di sekitar Unit Pusat
Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional, di Jalan Raya Sukabumi, Bogor. Tadarus
ayat-ayat suci Al Qur’an terdengar jelas dari pengeras suara Masjid. Beberapa
orang laki-laki yang mengenakan sarung dan kopiah, larut dalam tilawah dan
dzikir. Hamparan perkebunan pisang, menyambut kedatangan Tarbawi siang itu. Pusat
rehabilitasi yang dibangun sejak 2005 ini diperkirakan sebagai yang terbesar,
terlengkap dan termodern di Asia Tenggara. Hingga saat ini sudah bisa menampung
500 pasien narkoba dan akan dikembangkan lagi hingga kapasitas 1000 orang.
Di areal sekitar 11 hektare tersebut, terdapat banyak fasilitas, diantaranya rumah sakit, rehabilitasi sosial, labora (Hal-59) torium diagnostik, ruang penyembuhan berbasis keimanan dan sejumlah tempat ibadah. Unit rehabilitasi BNN ini juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang seperti: ruang medical akupuntur, poli gigi, poli umum, penyakit dalam, poli neurologi, psikologis (detoksifikasi), konseling, psikiater dan rontgen. Bangunannya seluas 15.712 meter persegi yang diresmikan oleh Wapres Yusuf Kalla ini, terletak diatas lahan berbukit-bukit, di tepi Danau Lido.
Teknologi Semestinya Mendekatkan
Teknologi Semestinya Mendekatkan
Oleh Edi
Santoso
![]() |
| Teknologi Semestinya Mendekatkan |
(Hal-44) Teknologi
mempermudah, tetapi kadang juga membuat susah. Teknologi komunikasi bisa
menghilangkan batas, tetapi sering juga membuat jarak. Teknologi seluler
misalnya, jelas bisa mendekatkan banyak orang. Dengan segala fiturnya, telpon
seluler menghubungkan orang secara lintas kota, pulau, bahkan lintas negara. Tetapi
kadang juga menjauhkan. Lihatlah saat lebaran, orang cukup mengirimkan SMS
permintaan maaf sebagai pengganti silaturahmi. Padahal mereka dalam satu
kampung. “kosong-kosong ya, hehe...,” begitu saja salam silaturahmi mereka.
Teknologi memang membentuk peradaban. Setidaknya itu pendapat McLuhan mewakili paham determinisme teknologi. Sampai cara berpikir orang juga dibentuk oleh teknologi. Dulu di era mesin ketik misalnya, orang tak punya banyak pilihan dalam merevisi tulisan. Terlalu rumit dan merepotkan. Di masa itu, orang dituntut untuk berpikir linier, runtut, sistematis, dan rapi. Di masa komputer, semua berubah. Orang bisa melakukan copy paste dengan mudah. Jadilah orang cenderung berpikir zig zag, instant, dan acak.
Untuk Kesempurnaan I’tikaf
Untuk Kesempurnaan I’tikaf
Oleh Sulthan
Hadi
![]() |
| Untuk Kesempurnaan I’tikaf |
(Hal-31) Definisi I’tikaf
I’tikaf
secara bahasa, adalah konsistensi dalam melakukan sesuatu dengan memusatkan
fisik, hati dan pikiran dalam hal tersebut, baik itu dalam perkara yang baik
maupun yang tidak baik. Allah berfirman,
“(Ingatlah),
ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini
yang kamu tekun beribadat kepadanya?”
(QS. Al
Anbiya’: 52)
Atau juga diartikan sebagai sikap berdiam diri di suatu tempat untuk melakukan ibadah terhadap sesuatu itu. Tetapi yang dimaksud di sini adalah mendekati Masjid dan berdiam diri di dalamnya dengan niat untuk taqarub kepada Allah azza wa jalla.
Jumat, 16 Agustus 2024
Satu Per Satu Impian Itu Terwujud
Satu Per Satu Impian Itu Terwujud
Oleh Edi
Santoso
![]() |
| Satu Per Satu Impian Itu Terwujud |
(Hal-28) Sangsi. Ragu. Perasaan itu sering menghampiri
H. Tauhidin (40) sebelum mimpi dan cita-citanya banyak yang berubah menjadi
nyata. Pria yang kini menjadi salah satu Pegawai Negeri Sipil di Banyumas, Jawa
Tengah itu, mengisahkan bagaimana satu demi satu kesuksesan menghampirinya. Yakin
pada akhirnya. Dan, ada rahasia I’tikaf di baliknya.
Kepada Tarbawi ia mengawali kisahnya, “Dengan segala kondisi yang ada, wajar jika banyak yang menyangsikan impian saya bisa terwujud. Dengan Ijazah SLTA, saya tak punya banyak pilihan pekerjaan. Tak kurang dari 15 tahun saya bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Seolah tak ada harapan karir. Mungkinkah saya punya rumah sendiri? Mungkinkah bisa naik haji?
Pilihan Allah Tidak Pernah Salah
Pilihan Allah Tidak Pernah Salah
(Hal-43) Sejak kecil hingga tamat SMU aku tidak pernah bermimpi ataupun bercita-cita menjadi seorang guru Bahasa Arab. Tapi itulah profesiku sekarang. Tahun 2003 saya tamat SMU, dan ikut tes di salah satu Perguruan Tinggi. Namun saya sangat terkejut ketika melihat hasil pengumuman, yang mana namaku tercantum sebagai salah satu seorang mahasiswi jurusan Bahasa Arab.
Awalnya saya sangat kecewa, karena saat mengisi formulir pendaftaran saya sebenarnya hanya iseng menulis Bahasa Arab sebagai pilihan terakhir, taoi ternyata malah diterima. Saat itu saya merasa tidak sanggup menjadi mahasiswi jurusan Bahasa Arab karena latar belakang pendidikan umum. Tapi orang tua dan keluarga sangat mendukung, mereka selalu berpesan bahwa inilah pilihan Allah yang terbaik untuk saya dan tidak ada orang pintar tanpa belajar.






